04 Februari 2011

Sekelumit Photo Dari Taboneo

Terminal Engineer


Bad Weather

Gabby, Electrician Advisor

Floating Office Permata Barito

Photo: Gabriel Zaharia and Fajjar Nuggraha

25 Juli 2010

Before Sunset, Samarinda

Foto yang saya ambil di sore hari Samarinda.
Lokasi di tepi Sungai Mahakam yang legendaris lewat ikan pesutnya.

Text : Fajjar Nuggraha
Foto : Fajjar Nuggraha

Perjalanan ke Samarinda bak dapat durian runtuh bagi saya. Bagaimana tidak, kala itu saya seorang mahasiswa kere yang sedang ingin kerja praktek (KP) ini luntang lantung tidak tau arah. Sejak merasakan kejamnya Ibukota Indonesia, Jakarta, saya sudah memutuskan untuk KP di Surabaya saja. Namun tuhan punya cara lain, setelah pontang-panting dan hilir-mudik ke Tanjung Perak. Tidak ada satu pun perusahaan maritim yang memberikan kesempatan saya KP di Kota Pahlawan. Sebaliknya saya malah mendapatkan tiket KP ke Samarinda. Ini bermula ketika ada sebuah email dari senior saya di kampus yang menawarkan KP ditempatnya dengan segala fasilitas dan akomodasi yang ditanggung oleh perusahaan. Ehmm...benar-benar tawaran yang menggiurkan. Malang benar nasib saya, tawaran ini untuk mahasiswa tingkat atas yang telah menempuh tugas gambar/desain yang terakhir di Kampus. Sempat putuslah harapan saya ketika itu. Akan tetapi lagi-lagi saya membuktikan pepatah kuno peninggalan nenek moyang kita "Malu bertanya sesat di jalan". Saya beranikan diri ini untuk menghubungi kontak person perusahaan tersebut, bertanya-tanya saja niatnya. Entah kenapa mungkin kasihan dan iba mendengar "curhatan" saya yang sudah kelihatan seakan-akan frustasi berat, perusahaan tersebut mengijinkan saya KP ditempatnya. Alhamdulliah, selain KP saya juga akhirnya mewujudkan cita-cita mulia di masa kecil yakni menginjakkan kaki di seluruh provinsi yang ada di Pulau Kalimantan. Ya, Sebagai seorang insan kelahiran Pulau Borneo, hanya Propinsi Kalimantan Timur (Kaltim) saja yang belum saya rasakan daratan, laut, dan udaranya. Makanya kesempatan untuk ke Samarinda gratis plus tanpa takut tempat rindang untuk berteduh dan lilitan perut yang menyiksa ini benar-benar hadiah yang tak terlupakan.

Bandara Sepinggan, Balikpapan

Berangkat dari Surabaya jam 3 sore, saya mengalami perjalanan udara yang cukup indah karena bertepatan dengan senja yang mulai menyeruak dari ufuk barat. Langit berwarna emas memantulkan sinarnya ke lautan Kalimantan. Dari ketinggian ribuan kaki ini pula saya melihat beberapa bangunan kilang minyak lepas pantai berdiri kokoh menghunjam dasar laut. Birunya laut, cerahnya langit ketika itu bisa membuai setiap orang yang melihatnya, seakan-akan membuat perjalanan ini semakin cepat belalu. Dua jam di atas langit, burung besi yang saya tumpangi ini pun mendarat di Bandara Sepinggan. Sebuah bandara yang unik dan eksoktik menurut saya, karena letaknya tepat bersebelah dengan laut. Sore hari di Sepinggan nampaknya akan indah seandainya saya punya waktu banyak untuk bersantai. Kalau tidak memikirkan Pak Teguh, Driver perusahaan yang sudah menunggu kami cukup lama di Tempat Parkir. Bandara Sepinggan sendiri adalah bandara yang secara geografis terletak di Kota Balikpapan, untuk menuju ke Samarinda Ibukota Kaltim ini masih membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam perjalanan darat dengan menggunakan taksi, jangan bayangkan taksi yang saya maksud adalah sebuah mobil dengan tulisan blue bird, orange, atau silver (taksi yang dimaksud disini adalah mobil kijang, orang Kaltim khususnya sudah mengalami peyorasi makna yang cukup parah..hehehe).

Dalam perjalanan menuju Samarinda, pak Teguh memacu kijangnya dengan kecepatan penuh, melewati jalan kalimantan yang sempit serta naik turun tidak membuat ciut nyali pria asal Lamongan ini. Entah berapa kali kami mau celaka menabrak pembatasan jalan atau baku tabrak dengan kendaraan lain. Allah memang masih sayang dengan kami sehingga dibuatnya tangan Pak Teguh cekatan untuk membanting setir kesana-kemari. Sadar dengan kondisi mata dan tubuhnya tidak mendukung, Sang Transporter satu ini pun menyempatkan diri untuk mampir ke cafe-cafe atau pondok-pondok makanan di sekitar Cagar Alam Bukit Soeharto. Teman saya yang baru pertama kalinya melintasi lautan dan berkunjung ke Kalimantan terkaget-kaget melihat kondisi disekitar cafe tersebut, gelap, pohon-pohon besar dimana-mana, serta suara berbagai hewan malam yang saling sahut menyahut di keheningan malam Bukit dengan nama bapak pembangunan Indonesia ini. Tapi percaya lah kawan ditempat saya terlahirkan, suasana ini masih belum ada apa-apanya, dalam hati ku membanggakan diri.

Sesampainya di Samarinda, kami langsung disambut oleh Cak Sun (senior saya) dan Pak Ari (juga senior saya). Keramahan sesama alamameter biru ini membuat saya sungguh tersanjung tapi ga sampai ke-6, hehehe. Disambut bagai keluarga jauh yang sudah lama tidak bertemu, saya disungguhi sate malam itu. Konon sate yang saya makan malam itu adalah sate yang terenak di Samarinda. Dengan irisan daging yang besar-besar, sate ini pun diberi komposisi hati ayam yang besar-besar pula. Bisa anda bayangankan sendiri bagaimana nikmatnya...? Kenyang. Setelah mandi, saya pun langsung disuruh istrirahat, bukan apa-apa besok saya langsung diterjunkan ke Galangan kapal yang letaknya kalau saya bandingkan jauhnya sama dengan perjalanannya dari kampus ITS Sukolilo ke Pandaan. Terbayang tidak betapa jauhnya perjalanan yang harus kami lalui. Dengan kontur daratan yang tidak rata pula, banyak bukit curam yang harus kami lewati, jalanan berbatu, berpasir, melewati hutan rimba, daerah tambang batu bara, tidak jarang kita berpapasan dengan kendaraan-kendaraan tambang yang berukuran super big. Bahkan kami menjuluki area Bukit Baduri, sebuah daerah yang saya lalui ketika menuju ke tempat KP ini sebagai "Terapi Getar". Ini karena setiap melewati area ini tubuh dan motor belalang tempur yang saya tumpangi bergetaran tidak karuan akibat bongkahan batu yang dijadikan pengganti aspal. Seorang teman saya Ahmad, ketika diajak berkunjung ke sana, sakit tiga tiga malam akibat tidak kuat menahan gonjakan batin dan jasmani.wkwkwkw. untung saja nilai KP ini dapat A, sehingga terbayar sudah pengorbanan itu.

Satu, dari jalan curam yang ada disekitar Bukit Baiduri

Seorang Teman pernah bilang, orang-orang di kota ini gila kerja, mereka menganut paham workaholic. Diam-diam saya pun menyetujuinya, ya..Ini dikarenakan tidak adanya waktu luang yang bisa saya gunakan untuk sekedar menikmati Samarinda dengan lebih intim lagi. Hari-hari di Samarinda kebanyakan saya habiskan untuk bekerja, bekerja, dan bekerja. Mungkin ini setimpal dengan segala fasilitas dan kenyamanan yang kami dapatkan selama ini. Namun terkadang, hati, otak, dan tubuh ini pun memberontak ingin direboot ulang. Memang bos-bos kita di perusahaan ini pun juga berpikiran sama dengan kebanyakan orang dan saya, kalau refreshing itu perlu. Terheran campur tertawa saya melihat apa yang dimaksud refreshing versi mereka. Bagi mereka bermain dan menghibur diri dengan kumpul-kumpul teman kerja di tempat billiard adalah sebuah liburan dan penyegaran yang sangat langka, pergi ke cafe-cafe dan duduk berlama sambil wi-fi juga masuk kategori refreshing. Atau terkadang juga pergi ke tempat karoake. Yang cukup sehat hanyalah bermain futsal tapi lagi-lagi ketemu orang yang sama. Itu-itu saja. Apakah ini memang dunia kerja, jadi hiburannya pun seperti ini. Berbeda dengan pikiran saya yang lebih suka menikmati indahnya kota Samarinda, menikmati daerah-daerah asing namun eksoktik.

"Lewat bola sodot satu ini, tidak hanya menyalurkan hobi
tapi juga bisa menjalin relasi" ujar Pak Ari


Alhasil hampir dapat dipastikan saya tidak dapat mengunjungi obyek-obyek indah disini dengan leluasa. Akan tetapi tekad dan niat sudah bulat, ditengah kesibukan survey dan berkerja saya pun menyempatkan diri untuk mampir ke tempat-tempat indah tersebut. Yang pertama tentunya ikon kota ini yakni Islamic Center Samarinda. Kompleks seluas satu hectare lebih ini kerap kali saya kunjungan jika pulang dari galangan untuk sekedar salat ataupun melepas lelah. Sungguh sayang seandainya bangunan yang memiliki gaya arsitektur Timur Tengah ini dilewatkan jika berkunjung ke Samarinda. Disini anda bisa menikmati kehidupan sore hari, lalu lalang kendaraan bermotor, senja di sungai mahakam, atau bahkan aktifitas transportasi kapal-kapal yang hilir-mudik mengangkut batu bara. Wajar memang kota ini jadi super sibuk dihari-hari kerja, entah ada berapa ladang minyak disini, tambang batubara, kemudian industri-industri lainya seperti kelapa sawit disetiap jengkal tanah Samarinda. Ngomong-ngomong batu bara, ketika KP disini ada kejadian yang cukup miris mengenai batu bara. Emas hitam dari kalimantan ini ternyata hanya bisa dinikmati oleh para pengusaha-pengusaha besar saja. Banyak penduduk yang belum bisa merasakan langsung berkah yang diberikan tuhan pada Ibukota propinsi Kaltim ini.

Islamic Center of Samarinda, The New Icon

Sungai Mahakam, merupakan urat nadi kehidupan Kota Ikan Pesut ini

Jika anda perhatikan seperti yang sudah saya ceritakan diatas, tidak terhitung jumlah kapal tongkang yang mengangkut batu bara hilir mudik di Sungai Mahakam. Nah ternyata rutinitas inilah yang menjadi lahan pekerjaan bagi sebagian orang di pesisir sungai mahakam. Orang-orang tersebut dengan bermodalkan kapal kayu bermesin tempel sekelas dong feng siap untuk mengikuti pergerakan kapal-kapal tongkang tersebut, baik yang kosong ataupun penuh dengan muatan batu bara. Dengan waktu dan tenaga sebisanya mereka "menjarah" setiap keping batu bara tersebut kemudian dikumpulkan ke kotak muatan kecil dibelakang kapal mereka. Tidak sedikit pula yang celaka akibat praktek gila ini, banyak yang terjatuh ke sungai kemudian terbawa arus, ataupun jatuh ke dasar kapal tongkang tersebut. Praktek liar ini bukannya tidak disadari oleh pihak kapal yang mengangkut batu bara tersebut, kebanyakan mereka membiarkan saja, toh berapa sih yang sanggup mereka bawa dibandingkan dengan puluhan ribu ton batu bara yang berhasil mereka keruk dari perut bumi.

Kapal-kapal pengempul batu bara ini banyak dijumpai di Mahakam.
Salah satu kapal yang hampir tenggelam setelah terbawa arus menghantam kapal lainnya.


Orang-orang galangan yang menonton kejadian hampir tenggelamnya
kapal batu bara penduduk lokal tersebut.


Kembali ke tempat-tempat indah yang wajib anda kunjungi di Samarinda setelah Islamic Center adalah jembatan. Samarinda memiliki 2 jembatan monumental. Pertama adalah Jembatan Mahakam, namun sayang anda tidak bisa berlama-lama diatas jembatan ini karena lalulintas yang ramai dan padat. Anda bisa menikmati keindahannya di malam hari dengan hiasan lampu yang menghiasi rangka-rangka besi jembatan ini, anda akan terasa terbawa ke Cambridge Bridge. Sungguh indah dan membuat kangen. Momen ini saya alami ketika malam terakhir di Samarinda sebelum harus kembali ke Surabaya.

Keindahan yang tidak pernah saya lupakan dari Kalimantan adalah
indahnya awan-awan yang menggantung di kolong langit


Mahakam Hulu, Jembatan harapan masa depan ini
merupakan spot yang indah untuk bersantai disore hari


Mahakam Hulu, bisa jadi alternatif lain setelah Jembatan Mahakam yang
sudah ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor


Kemudian jembatan yang tidak kalah bagusnya adalah Jembatan Mahakam Hulu, sesuai dengan namanya jembatan ini tepat berada di hulu sungai mahakam. Jembatan ini juga yang menghubungkan antara Samarinda Kota dan Samarinda Seberang (penamaan yang biasa digunakan untuk menyebut daerah yang berada di seberang sungai). Bedanya di jembatan ini pemandangan alamnya masih cukup indah, jembatan yang relatif sepi bisa membuat anda bisa berfoto narsis di atas jembatan yang diresmikan langsung oleh Presiden SBY ini. Selain itu jembatan ini masih bersih. Waktu yang tepat kesana adalah sore hari (tololnya saya datang waktu matahari tepat diatas kepala), sambil menunggu senja anda juga bisa memesan berbagai makanan ringan seperti jagung bakar atau gorengan yang dijual di pintu masuk sebelum ke arah jembatan. Tentunya sangat nikmat dan romantis.

Foto-Foto Terlarang Hindia Belanda

Selasa, 8 Desember 2009 diterbitkan buku yang berisikan foto-foto terlarang yang dibuat di Hindia-Belanda - nama Indonesia di zaman kolonial - antara tahun 1945 hingga akhir 1949.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Foto-foto dilarang pemerintah Batavia, karena hanya mau memberikan gambaran yang positif tentang perang ketika itu. Foto tentara yang terluka tembakan, atau penduduk yang ditangkap dan diancam laras senapan, foto-foto yang boleh dibilang kontroversial, tidak pernah muncul di media Belanda. René Kok, Erik Somers dan Louis Zweers menggabungkan hampir 200 foto dalam buku mereka 'Perang Kolonial 1945-1949: Dari Hindia Belanda ke Indonesia. Radio Nederland berbincang dengan Erik Somers, salah satu penulisnya.

René Kok, Erik Somers dan Louis Zweers memang sudah lama menyelidiki berbagai arsip gambar dan juga fotografi mengenai Perang Dunia II. Selain itu mereka juga menyelidiki arsip-arsip foto di periode dekolonisasi Hindia-Belanda antara 1945 hingga 1949. Ketika itu banyak wartawan yang dipakai oleh pemerintah kolonial untuk membuat foto-foto perang. Para wartawan ini diwajibkan untuk menyerahkan semua foto yang dibuat kepada pemerintah Batavia untuk diseleksi, sebelum dikirim ke media di Belanda.Disensor
Banyak foto yang tidak terseleksi karena dianggap mengandung unsur-unsur yang mengagetkan sehingga bisa meresahkan sanak keluarga serta penduduk Belanda. Foto serdadu yang terluka misalnya, atau tawanan perang, tidak pernah ditampilkan di media.

Sebenarnya periode 1945, setelah 17 Agustus dan 1949, dikenal dengan periode Bersiap, dan setelah itu dimulai aksi agresi I dan II oleh Belanda, dan berakhir dengan penyerahan kedaulatan Desember 1949. Istilah Belanda 'Politionele Actie' memang sengaja tidak digunakan oleh ketiga penulis. Menurut mereka istilah ini digunakan pemerintah Belanda untuk membenarkan aksi di Indonesia yaitu mengembalikan ketenangan dan pemerintahan di Hindia-Belanda, dan digunakan untuk menutup-nutupi apa yang terjadi ketika itu.Setelah menyelidiki ratusan foto yang ditemukan, ketiganya menyimpulkan, bahwa sejak hari pertama pasukan Belanda datang ke Indonesia, dimulailah periode perang, dalam hal ini perang kolonial.

Memang saat itu banyak foto yang beredar mengenai perang. Tujuan utama buku ini adalah menerangkan kepada rakyat Belanda, bahwa pemberitaan mengenai perang ketika itu, terutama foto, telah terlebih dulu diseleksi, disensor oleh pemerintah, dinas intel dan militer Belanda. Hanya diperlihatkan foto-foto yang sesuai dengan kebijakan pemerintah, kebanyakan foto-foto yang menutup-nutupi dan tidak memperlihatkan situasi yang sebenarnya. Jadi foto-foto yang tidak membuat khawatir sanak keluarga para militer di Belanda. Ketika itu ada 120.000 tentara Belanda dikirim ke Indonesia.
Keadaan sesungguhnya
Foto-foto yang diterbitkan sekarang, justru foto yang dilarang atau ditolak oleh badan sensor, tapi oleh karena satu dan lain hal masih tetap disimpan di berbagai badan arsip. Foto-foto ini menunjukkan gambaran lain tentang perang, kekerasan, teror dan lainnya, atau gambaran perang sesungguhnya.
Rakyat Belanda tidak boleh merasa khawatir akan nasib tentara, sanak keluarga mereka yang ditugaskan ke Hindia-Belanda. Itulah tujuan utama. Setiap bentuk keresahan, apalagi tentangan terhadap perang ini membawa dampak negatif bagi pemerintah dan pimpinan militer Belanda ketika itu. Termasuk foto-foto di mana penduduk Indonesia menyambut gembira pasukan Belanda yang ketika itu dianggap sebagai 'pembebas'.

Kebijakan yang sama juga digunakan pemerintah Amerika Serikat dalam perang Irak. Dan juga di Afghanistan. Foto-foto yang dipublikasi sebisa mungkin tidak membuat orang bereaksi negatif. Foto-foto yang dibuat fotografer embedded, dan dibuat berdasarkan permintaan pemerintah atau militer.

Foto-foto ini bertolak belakang dengan cerita para serdadu yang kemudian kembali ke Belanda. Setibanya di tanah air mereka merasa tidak dihargai, karena gambaran publik tentang perang itu sangat positif. Tidak ada kejahatan, kekerasan, teror atau aksi berdarah.

Selain itu Belanda juga perlahan-lahan harus menerima bahwa mereka kehilangan wilayah koloni dan dari awalnya perang ini sudah dianggap gagal. Satu hal yang sudah pasti tidak menimbulkan simpati publik.

Semua foto diambil dari buku

23 Juli 2010

new layout

Entah sudah berapa bulan blog ini saya telantarkan di pinggiran jalan. Tulisan-tulisan yang sudah saya planningkan pun mangkrak tidak jelas kapan postingnya. Tapi sebenarnya saya juga ingin banget menulis dan mengupdate blog yang susah payah saya buat ini, tentunya dengan bantuan suhu labib..hehe..namun apa daya kekasih saya yang baru dengan nama yang indah dan dikenal orang se-Indonesia Raya, Skripsi mampu mengalahkan nafsu menulis saya di blog ini.

Maka untuk mengawali terlahirnya kembali blog ini biasanya saya selalu melakukan perubahan layout. Pun demikian seperti yang terjadi pada blog saya tercinta ini sekarang. Tampil dengan "baju" yang lebiih elegan semoga tidak sampai membuat mata-mata pembaca setia MOD lelah dan cepat-cepat menuju kiri atas dan mengarahkan kursor ke tanda x (artinya menutup halaman blog ini gitu aja koq repot).

Dengan niat dan tekad yang tulus diawal ini semoga saya dapat hadir dan eksis kembali dengan berbagai tulisan yang saya parkir selama ini. Saya juga berencana memasukkan beberapa tulisan yang berbau ilmiah. Mungkin saya orang yang terlalu takut untuk berbicara kapal dan segala isinya, sampai-sampai sudah mau dapat gelar Sarjana baru berani merencanakan menulis tentang teknologi perkapalan saat ini.

26 November 2009

Selamat Hari Raya Aidil Adha

Ilustrasi : PelajarNUlamongan.wordpress.com

"MOD mengucapkan selamat hari raya idhul adha, semoga dosa-dosa kita diampunin oleh Allah SWT serta kita semua mampu meneladani kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya, untuk Calhaj semoga jadi Haji yang mabrur"

23 November 2009

Mengikuti Jejak Islam Nusantara : Islamic Center Samarinda

Islamic Center Samarinda

Foto : Fajjar Nuggraha
Text : Fajjar Nuggraha

Siapa yang tidak mengenal kerajaan Kutai Kartanegera dan Mulawarman, dua kerajaan besar di Abad 14 ini berasal dari Kalimantan Timur (Kaltim). Tentunya bagi sebagian besar penduduk Indonesia, mengetahui kedua kerajaan itu melalui pelajaran sejarah yang didapatkan dibangku sekolah. Pada bulan Juli yang lalu saya pun akhirnya berkesempatan untuk menginjakan kaki di pulau Borneo paling timur ini, tempat dimana Kutai dan Mulawarman pernah bersinggasana. Tepatnya saya berkunjung ke dua Kota, yakni Kota Samarinda dan Balikpapan. Tentunya menjadi impian saya dilain waktu akan meniti seluruh kota di Kaltim, mulai dari Bontang hingga ke Berau. Menghabiskan waktu satu bulan di Samarinda, membuat saya takjub akan keindahan Samarinda, masyarakat yang bersahabat dan bersahaja, dan tentunya kenyaman serta keamanan yang tidak saya temukan di Surabaya. Itulah mungkin yang menyebabkan Kota ini banyak didatangi pendatang dari seluruh penjuru Nusantara. Tidak ada yang bisa menolak daya tarik Sungai Mahakam, bahkan keagungan Ikon baru kota Samarinda, yakni Islamic Center Samarinda, Jembatan Mahakam, serta yang terakhir Jembatan yang langsung di resmikan oleh SBY yakni Mahakam Hulu. Semua itu dapat menyihir setiap pendatang termasuk saya untuk melupakan penatnya kehidupan.

The New Icon Of Samarinda
Samarinda sendiri adalah kota yang memiliki sejarah panjang, keberadaan kota ini tidaklah lepas dari kerajaan Kutai dan Mulawarman. Alkisah, ketika pada jaman Kolonial Belanda terjadi banyak perlawanan di daerah yang melibatkan beberapa kerajaan di Nusantara. Salah satunya Kesultanan GOWA, yang dipimpin oleh Sultan Hasanudin, namun sang Sultan mengalami kekalahan akibat beberapa pengkhianatan dari anak bangsa. Sultan pun terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaja yang ditawarkan oleh pihak kompeni. Melalui perjanjian ini lah orang-orang bugis dipaksa untuk tunduk dan patuh terhadap Belanda. Akan tetapi banyak dari sebagian orang-orang bugis ini memilih untuk melarikan diri ke pulau-pulau lainnya untuk menyelamatkan diri daripada harus tunduk dan patuh kepada penjajah. Orang-orang bugis ini pun meminta perlindungan dan bantuan kepada kesultanan Kutai, dimana kala itu Kutai telah menjadi Kerajaan Islam dengan Kesultanannya. Sultan Kutai ini pun menempatkan rombongan orang-orang bugis di sekitaran sungai mahakam, dimana secara geografis memiliki daratan yang sama rendah dengan sungai. Sehingga orang-orang bugis tersebut menyebut pemukiman baru mereka dengan nama Samarenda, namun kelama-lamaan akhirnya ejaannya menjadi Samarinda.
Simbol kemegahan dan keagungan arsitektur Islam

Tak heran banyak nama daerah dan pemukiman penduduk di Samarinda diberi nama dengan bahasa bugis seperti halnya LOA, Pua Ado, hingga Daeng. Terlepas dari sejarah tersebut, nuansa Islam sangat kental mewarnai kota samarinda, apalagi kelahiran kota ini juga terjadi dari upaya untuk melindungi sesama umat muslim, dimana kerjaan GOWA pun juga adalah kesultanan Islam terbesar di Nusantara kala itu. Nuansa Islam itu semakin terasa kental setelah kita menelusiri sungai mahakam, dimana disana banyak berdiri masjid-masjid yang berumur sangat tua, seperti salah satunya masjid Mesjid Darrunni'mah. Hal ini menadakan bahwasanya sungai yang menjadi pusat kehidupan kota Samarinda ini adalah sebagai pemukiman muslim. Seminggu di Samarinda saya selalu menelusuri sungai Mahakam untuk menuju ke Lokasi Galangan Kapal, tetapi tidak ada sesuatu yang dapat menarik perhatian saya selain Islamic Center Samarinda. Ya!, Islamic Center yang berdiri kokoh di pinggir sungai Mahakam ini menambah keindahan Samarinda, apalagi jika dikombinasikan dengan Jembatan Mahakam yang telah lebih dulu dibangun. Islamic Center Samarinda sendiri belum menyelesaikan seluruh pembangunannya, jika dikelilingi bangunan yang menghabiskan triliunan Rupiah ini masih terdapat proses penyelesaian di beberapa bagian masjid.

Pemandangan dari atas jembatan sungai Mahakam

Islamic Center Samarinda ini jika dilihat dari atas Jembatan Mahakam, akan terlihat lebih indah dan sangat megah. Mengingatkan saya dengan Masjid Nabawi di Madinah, menara dan kubah yang menjulang tinggi, luas area yang mencapai 12 hektar lebih lengkap dengan asrama, sekolah, dan gerbang-gerbang tinggi menjulang bak arsitektur turki semakin membuat saya tidak akan melupakan keindahan arsitektur rumah Allah SWT ini. Masjid ini berdiri di atas lahan yang dulunya merupakan bekas tanah milik perusahaan kayu PT Inhutani 1 yang diwakafkan ke Pemerintah Kaltim. Bahkan pembangunan kala itu, termasuk keputusan fenomenal mengingat, banyaknya Dana yang dikeluarkan untuk merealisasi proyek besar pertama Kaltim ini.Waktu saya berkunjung ke Islamic Center tepat ketika akan memasuki waktu maghrib, dimana matahari akan mulai turun dan menutup keindahan hari dilangit khatulistiwa Borneo. Tiba di masjid terbesar kedua di Asia Tenggara, setelah masjid Istiqal di Jakarta ini saya langsung menuju kedalam masjid untuk melihat-lihat Islamic Center Samarinda. Saya beserta teman saya yang bernama Amad seorang lulusan Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya ITS begitu terkaget, sekaligus bangga dengan bangunan yang super megah itu. Islamic Center ini memiliki ruangan wudhu yang sangat bersih, mewah, dan elegan, kamar mandi yang sangat nyaman dan tentunya canggih. Hebatnya lagi kita tidak dipungut biaya untuk menikmati fasilitas tersebut, termasuk pakiran Islamic Center. Untuk menuju ke lantai yang lebih tinggi, Islamic Center dilengkapi dengan elevator, juga lift, serta jalur khusus penyandangan cacat, Interior bangunan pun tidak kalah megah, lampu cristal yang menawan, lampu dinding yang unik yang bertemakan tulisan kaligrafi, dinding-dinding masjid yang dihiasi dengan asma ul husna', dan pegawai-pegawai yang ramah, mulai dari petugas kebersihan hingga supervisor. Mereka selalu menjawab pertanyaan dari saya, dengan ketulusan hati dan bersahabat. Dimana kondisi ini tidak saya dapatkan di Masjid Sunan Ampel sekalipun. Berbeda dengan masjid Sunan Ampel yang masih dipengaruhi dengan alkuturisasi dari budaya lokal dan hindu-budha lewat arsitektur bangunannya, Islamic Center Samarinda telah mengadaptasi aristektur timur tengah dengan perpaduan unsur Eropa dan Nusantara.

Menara Islamic Center Kokoh dan Menjulang Tinggi

Tempat Wudhu Islamic Center

Lampu yang di langit-langit Masjid

Lampu dinding ini mirip UFO, itu yang membuat saya tertarik untuk memotretnya


Beranda Islamic Center Samarinda

Tempat pilihan di waktu senja, seperti yang dilakukan dua warga Samarinda ini

Puas melihat-lihat keindahan interior Islamic Center Samarinda, saya dan amad menuju beranda masjid untuk menghabiskan waktu di Sore hari yang indah itu. Melihat kesibukan orang yang melalui jalan raya yang berada persih disamping Sungai Mahakam, menjadi hiburan tersendiri bagi kami. Tidak hanya itu kita juga bisa sekaligus mengamati lalu lalang transportasi yang hilir-mudik di Sungai Mahakam. Tidak hanya kapal-kapal tug boat, dan tongkang pengangkut batu bara saja yang bisa masuk ke sungai Mahakam. Kapal-kapal tanker pun banyak lalu lalang melintasi sungai yang menjadi tempat endemik Ikan Pesut ini. Pesona Mahakam di kala Senja ini menjadi semakin indah jika di nikmati dari Islamic Center Samarinda. Belum lagi melihat aktifitas penduduk Samarinda atau bahkan pengunjung yang sengaja datang dari luar pulau atau propinsi lainnya di luar Kaltim. Seperti halya Pak Suriansyah yang berasal dari Banjarmasin Kalimantan Selatan, beliau menyempatkan diri berkunjung disela waktu tugas dinas kantornya. Belum lagi pak Teddy yang mengenakan wearpack bertuliskan TOTAL Oil n Gas, pastinya pria asli Jember ini mencoba menghabiskan waktu untuk istrihat sejenak, sembari ingin menunaikan salat maghrib di Islamic Center Samarinda. Menyesal saya tidak dari awal ke Islamic Center ini, kenapa saya selalu tenggelam dengan rutinitas kerja dan tidak menyempatkan diri dari awal untuk berkunjung ketempat yang sungguh indah ini. Hati ini semakin tertegun miris, kala melihat segerombolan orang tua dan muda dari klub-klub dan komunitas fotografi, membawa kamera DSLR, asyik mengambil gambar dari berbagai angle. Ah sial!! saya hanya bermodalkan kamera Pocket, dan tentunya hasilnya tidak sebegitu bagus jepretan mereka. Kekecewaan itu sedikit berkurang setelah berdiam diri dan menikmati nikmatnya menunggu senja di Samarinda. Kemujuran tidak memihak saya, maksud hati ingin melihat Samarinda dari atas menara Islamic Center Samarinda seperti halnya dengan menara yang ada di masjdi Al- Akbar Surabaya, namun karena masih dalam tahap maintenance menara tersebut tidak dapat di akses.

Melalui menara ini kita bisa melihat seluruh isi kota Samarinda

Senja di Islamic Center, sungguh sangat indah

Arsitekturnya konon menyerupai Masjid Nabawi di Madinah

Dari beranda depan masjid hingga gerbang didepan

Islamic Center sering digunakan sebagai lokasi hunting komunitas fotografi

Hampir ditiap penjuru, para fotografer ini mengambil foto. Bahkan ada yang membawa Modelnya.

Simbolisasi kebersamaan masyarakat Samarinda

Namun tekad saya sudah kuat, saya harus pulang ke SBY dengan membawa liputan Islamic Center Samarinda. Alhasil pun saya juga berasyik ria untuk mengambil gambar. Saya tidak ingin menikmati keindahan Islamic Center ini sendirian, akan saya share untuk teman-teman melalui MOD ini. Saya akan bagikan bagaimana keindahan Islam Nusantara di Samarinda, bagaimana bahagia dan cerianya penduduk Samarinda, keindahan langit dan matahari senja yang menyelimuti Islamic Center Samarinda, Serta semangat kebersamaan masyarakat Samarinda yang tersimbolisasikan melalui keelokan dan kemegahan Islamic Center Samarinda.

Semoga di lain kesempatan saya masih bisa berkunjung

Cukup sekian liputan Mengikuti Jejak Islam Nusantara, edisi spesial dari MOD yang kedua setelah masjid Sunan Ampel Surabaya. Berikutnya MOD akan tampilkan liputan mengenai landsmark di Samarinda yang beberapa tempat telah saya munculkan di tulisan ini. Semoga dapat menambah pengetahuan pembaca akan melimpahnya ramhat Allah diatas bumi Nusantara, melalui Jejak Islam Nusantara.

note : tulisan yang ditulis ditengah-tengah beban kuliah yang telah menerpa dengan deras sang penulis.
Ingin melihat foto dengan hasil yang terbaik klik di foto

31 Mei 2009

Malang Tempo Doeloe 2009, Rekonstruksi Jatidiri Malang



Foto : Fajjar Nuggraha
Naskah : Fajjar Nuggraha

Saya termasuk orang yang sering sekali mengunjung Malang, namun edisi spesial yang menjadi icon kota Malang seperti Malang Tempoe Doeloe dan Pekan Raya Malang selalu saya lewatkan. Tidak ingin acara yang dalam rangka menyabut Hari Jadi Kota Malang ini terlewatkan kembali. Maka saya memutuskan berangkat menuju Malang Sabtu (23/5) minggu lalu. Malang Tempoe Doeloe atau yang akrab disebut dengan MTD saja ini digelar selama empat hari mulai tanggal 21-24 April 2009 di sepanjang jalan Raya Ijen. Berangkat dari Surabaya dengan cuaca yang cerah selepas siang hari, dan tiba di Malang sudah disambut dengan cuaca mendung, seakan langit mau tumpah meradang dengan tetesan airnya. Tiba di Malang tepat pukul 3 sore hujan sudah turun dengan derasnya, hingga terpaksa dibuat menunggu lama diterminal Arjosari. Akhirnya batal lah rencana saya untuk ke MTD sore itu, dalam hati saya bergumam semoga saja malam ini tidak hujan. Walaupun hujan masih turun rintik-rintik saya paksakan saja ke MTD malam itu, sial memang kunjungan saya ke MTD kali tepat dengan malam Minggu, otomatis masyarakat Malang sendiri tumpah ruah di seluruh pintu masuk MTD yang tersebar di empat jalan masuk menuju Jalan Raya Ijen. Saya sendiri memutuskan masuk dari arah depan Jalan Ijen sesampainya disana meskipun disambut dengan rintik-rintik hujan terlihat pemandangan bikin nyali ciut untuk meneruskan masuk ke MTD. Bagaimana tidak, Jalan yang merupakan jalan satu arah itu menjadi dipenuhi oleh para pejalan kaki dan kendaraan bermotor. Akibatnya hampir tidak ada celah sama sekali disana.
Padat merayap, ngalahin kemacetan di Tol Porong

Kondisi kemacetan yang cukup parah ini membuat Mbak Dani yang merencanakan week end ke MTD menjadi gagal. Mobil yang membawa Humas ITS ini mengalami kesulitan untuk memasuki area Jalan Ijen. Akhirnya Mbak Dani memutuskan pulang dan Mampir sejenak ke Malang Olympic Garden (MOG). Mbak Dani orang kedua yang gagal janjian ketemuan dengan saya di MTD, selain si Lutfiana Maryetin Mahasiswi Statistika ITS yang pulang duluan di Siang harinya setelah menyelesaikan tugas surveynya di Malang. Mungkin saya juga akan membatalkan ke MTD malam itu, kalau saja saya tidak berdarah Bonex, darahnya yang sedang mengalir kencang di tubuh akibat tempaan kuliah di ITS. Menerobos masuk ke pintu gerbang MTD tidaklah mudah, selain harus melawan arus balik yang ingin keluar dari Ijen, tubuh kita terkadang juga harus beradu dengan sepeda motor yang memang di parkir di kompleks Ijen. Dengan sedikit usaha yang cukup berat akhirnya saya juga berhasil memasuki jalan Ijen. MTD kali ini sendiri mengambil tema Rekonstruksi Jatidiri, dimana upaya untuk memunculkan kembali jatidiri Malang yang hampir punah. MTD sendiri dibagi menjadi beberapa Zona, antara lain Zona peralihan pemerintahan Stadgeemente-kotapraja, Zona kegigihan perjuangan arek-arek Malang, Zona ekonomi kerakyatan masyarakat Malang, Zona pondasi pendidikan dasar di Malang, Zona Keragaman budaya dan budidaya pangan. Selain itu banyak kegiatan-kegiatan unik dan bergenre jadul berada di kawasan Ijen ini. Belum jauh melangkahkan kaki ke pusat MTD, saya sudah terkesima dengan jajanan khas Malang, yang menurut saya lumayan lengkap dijual di MTD ini. Makanan dan Minuman dari jaman Ken Arok hingga Kennedy juga ada disini. Di stand pertama saya langsung diberi sungguhan gratis oleh bu Narmi, penjual Ireng-ireng. Jujur baru kali ini saya mendengar jajanan dengan nama itu. Ireng-ireng sendiri adalah makanan yang berbahan dasar ketan, kemudian diberi taburan parutan kelapa kemudian untuk menambah kelezatan ireng-ireng biasanya di beri saus gula merah diatasnya. Dilihat sepintas makanan ini mirip dengan dodol Garut. Enaknya lagi saya diberi makanan yang katanya khas ini gratis.
Bu Narmi dengan Ireng-Irengnya

Tidak jauh dari stand Bu Narmi, saya bertemu dengan Pak Suharjo penjual segala panganan tempo doeloe. Tapi ada dua hal yang bikin saya tertarik dengan stand pak Harjo begitu biasa dia dipanggil. Pertama adalah rokok Klobotnya dan kedua tape bakar, serta ketan bakarnya. Yang kedua ini gara-gara, lagi-lagi saya dikasih gratis untuk mencicipinya. Sebenarnya rasanya rada gurih dan berasa asam karena tape, yang lebih enak lagi Ketannya, tentunya bisa dibayangkan gurihnya ketan itu. Perihal rokok klobot sendiri, saya masih ingat sekali ketika kakek saya dulu merokok dengan semacam rokok ini, bedanya kalau di kalimantan rokok klobotnya dilinting dengan daun yang saya ga tau namanya. Namun di MTD ini saya melihat rokok yang menjadi cikal bakal rokok Indonesia di linting dengan daun/ atau apalah namanya yang penting dia berasal dari material yang ada di jagung. Rokok klobot sendiri dijual dengan harga Rp 2000, untuk 3 batang. Bagi para Ahli Hisab (Perokok,red) tentunya rokok Klobot bisa menjadi pilihan di MTD.
Rokok Klobot dan Tape & Ketan Bakar pak Harjo

MTD 2009 kali ini juga tidak menjadi ajang parade kuliner khas Malang-an dan jadul-jadulan. Tapi juga menjadi ajang para insan kreatif yang walaupun dianggap sebagian orang hanya merupakan sebuah karya yang biasa-biasa saja, namun tidak buat saya. Misalnya saja penjual alat parut segala bentuk dan rupa. Dengan memanfaatkan bahan seadanya, Pria ini bisa menjual dan mendapatkan untung dari mesin parutnya. Atau lain lagi dengan Bapak yang bermain musik dengan memanfaatkan seluruh kemampuan dirinya meskipun beliau Tunanetra, Bapak ini bermain musik nonstop tiada henti. Soalnya sejak saya berangkat menuju ke jalan Ijen yang paling pojok, sampai saya memutuskan pulang di Jam 11 malam, bapak ini tiada henti memainkan musiknya. Lain lagi dengan Mike mahasiswi Jurusan Akuntasi Brawijaya ini, dia bersama teman-temannya membuat ukiran Topeng khas Malang. Topeng yang juga merupakan tokoh perwayangan ini membuat daya tarik sendiri bagi pengunjung MTD malam itu. Untuk satu Topeng dipatok harga 75 ribu rupiah. Tak ayal ukiran ini menjadi laris manis dibeli oleh pengunjung MTD.

Mesin Parut Sederhana namun cukup lengkap

Mulut, Tangan, dan Kaki semua dipakai
Topeng Dewi Ayu Sekartaji

Perjalanan saya di MTD juga cukup melelahkan, apalagi ditambah suasana jalan bak kondisi lempar jumroh. Sangat padat sehingga membuat sulit mengambil nafas dan udara segar waktu itu. Sesekali saya pun menyempatkan diri untuk berhenti menikmati pementasan yang ada di MTD kali ini. Pementasan yang pertama adalah tarian etnik yang dibawakan sekelompok pria dan wanita ini mengundang sejumlah mata pengunjung MTD untuk bergumul dan berkumpul untuk menyaksikan tarian yang dibawakan oleh 5 Wanita yang berbusana perdesaan. Sedangkan yang pria memainkan gendang atau rampak, Alunan musiknya yang bikin saya tertarik dengan penampilan ini. Membuat saya tetap terus semangat untuk menyusuri jalan Ijen hingga ke akhir jalan. Tidak jauh dari itu Kelompok pemusik tahun 70'an juga hadir di MTD dengan panggung yang sederhana, Group Band dengan vokalis wanita ini menyanyikan lagu-lagu yang hit di tahun 1970-an. Ternyata musik jadul juga banyak peminatnya, jadi tak ayal banyak para peminat musik yang rela berdiri untuk mendengarkan sang biduwan ini bernyanyi. Di tengah jalan Jalan sekitar monumen kendaraan tua yang memang di pajang di Jalan Ijen terpapang Panggung pergelaran wayang orang, tidak kalah dengan banyak peminatnya dengan konser musik tadi, wayang orang pun menjadi sungguhan favorit di MTD 2009.

Alunan Musiknya yang bikin semangat

Pagelaran musik 70'an di MTD 2009

Cerita Pewayangan masih menjadi tontonan seru di MTD

Tidak lengkap memang kalau di Malang Tempo dulu tanpa melihat berbagai barang-barang unik dan cukup kuno. Sebenarnya hampir semua pekakas dan peralatan yang berada dijaman kolonial hadir dipamerkan pada ajang rekonstruksi jatidiri ini. Namun saya tidak dapat mengabadikan semuanya kedalam liputan MOD kali ini. Mungkin bagi para penggemar sepeda cukup beruntung, karena saya sempat mengabadikan sebuah sepada antik yang berasal dari tahun 1963. Sepeda yang oleh pemiliknya ini dinamakan Philip ini menjadi kebanggan pak Hardiman kalau sudah perhelatan MTD dimulai. Sepeda yang menjadi warisan turun menurun keluarganya ini sudah beberapa kali ditawar untuk dibeli oleh para kolektor-kolektor benda kuno. Tawaran tertinggi penah jatuh di harga 70 juta, namun semuanya di tolak. Yang cukup membuat decak kagum adalah keberadaan radio kuno dari tahun 1946, oleh pemiliknya yang akrab di panggil Alex ini, radio ini merupakan peninggalan kakek buyutnya. Menurutnya dulu kakek bunyutnya mengetahui kabar bahwa Indonesia Merdeka adalah melalui radio ini. Maklum saja waktu itu kabar Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya baru tersebar 1 hingga 2 tahun setelah Kemerdekaan akibat terbatasnya komunikasi di jaman Kolonial. Tidak kalah menarik dari stand yang memamerkan radio-radio tua ini, terdapat sebuah stand yang menjual semacam lukisan yang dibentuk dengan menggunakan berbagai motif kain batik Malang-an. Namun harganya cukup mahal, tapi sesungguhnya saya ingin juga benda ini untuk pajangan atau oleh-oleh orang dirumah.

Si Philip

Radio merupakan satu-satunya media komunikasi saat tempo dulu

Dua pasang tokoh pewayangan Malang yang diabadikan lewat balutan kain batik

Ternyata antusias dari masyarakat Malang sendiri terhadap acara MTD sungguh sangat membuat iri saya yang untuk saat ini berdomisili di Surabaya. Malang dengan segala keindahan alamnya, objek pariwisatanya yang menjanjikan, akan menjadi tatapan beberapa orang yang adai di Jawa Timur khususnya, atau mungkin dari luar Jatim apabila perhelatan MTD telah dimulai. Berjumbelnya pengunjung MTD hari ini menjadi bukti betapa masyarakat Malang tidak lupa dengan Jatidirinya sendiri. Jangan masyarakat lokal yang meramaikan ajang MTD tahun ini, tidak sedikit di setiap seluk beluk jalan Ijen kita jumpai warga negara asing yang memang berniat hadir di MTD tahun ini. Mungkin mereka juga turut mengikuti jejak para nenek moyang mereka yang menjadi kolonial di Nusantara waktu itu, atau saja hanya sekedar memanjakan diri dengan kondisi masa lampau melalui jajanan kolonial yang turut di jual di MTD tahun ini. Namun dengan hadirnya segala sesuatu yang berbau koloni, tidak membuat unsur tradisi lokal dan Malang turut luntur di MTD. Misalnya saja masih banyaknya peminat wayang beber yang dijual ataubahkan wayang-wayang khusus yang memang hanya dipamerkan. Belum lagi berbagai pentas seni dan budaya khas Nusantara yang turut meramaikan MTD juga tidak sepi didatangi oleh para pengunjung.

Bule yang tertarik dengan jajanan khas Kolonial yang dijual di MTD

Penggemar Wayang Beber

Semoga acara keren abis ini tetap bisa saya kunjungi ditahun-tahun mendatang, dan tentunya semoga juga Surabaya menyelenggarakan acara serupa. Toh Surabaya tidak kalah dalam hal relief-relief kuno dan peninggalan kolonialnya. Cukup sekian dulu liputan MOD kali ini, kita akan berjumpa lagi dengan liputan-liputan yang mantab dan makyus.