26 November 2009

Selamat Hari Raya Aidil Adha

Ilustrasi : PelajarNUlamongan.wordpress.com

"MOD mengucapkan selamat hari raya idhul adha, semoga dosa-dosa kita diampunin oleh Allah SWT serta kita semua mampu meneladani kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya, untuk Calhaj semoga jadi Haji yang mabrur"

23 November 2009

Mengikuti Jejak Islam Nusantara : Islamic Center Samarinda

Islamic Center Samarinda

Foto : Fajjar Nuggraha
Text : Fajjar Nuggraha

Siapa yang tidak mengenal kerajaan Kutai Kartanegera dan Mulawarman, dua kerajaan besar di Abad 14 ini berasal dari Kalimantan Timur (Kaltim). Tentunya bagi sebagian besar penduduk Indonesia, mengetahui kedua kerajaan itu melalui pelajaran sejarah yang didapatkan dibangku sekolah. Pada bulan Juli yang lalu saya pun akhirnya berkesempatan untuk menginjakan kaki di pulau Borneo paling timur ini, tempat dimana Kutai dan Mulawarman pernah bersinggasana. Tepatnya saya berkunjung ke dua Kota, yakni Kota Samarinda dan Balikpapan. Tentunya menjadi impian saya dilain waktu akan meniti seluruh kota di Kaltim, mulai dari Bontang hingga ke Berau. Menghabiskan waktu satu bulan di Samarinda, membuat saya takjub akan keindahan Samarinda, masyarakat yang bersahabat dan bersahaja, dan tentunya kenyaman serta keamanan yang tidak saya temukan di Surabaya. Itulah mungkin yang menyebabkan Kota ini banyak didatangi pendatang dari seluruh penjuru Nusantara. Tidak ada yang bisa menolak daya tarik Sungai Mahakam, bahkan keagungan Ikon baru kota Samarinda, yakni Islamic Center Samarinda, Jembatan Mahakam, serta yang terakhir Jembatan yang langsung di resmikan oleh SBY yakni Mahakam Hulu. Semua itu dapat menyihir setiap pendatang termasuk saya untuk melupakan penatnya kehidupan.

The New Icon Of Samarinda
Samarinda sendiri adalah kota yang memiliki sejarah panjang, keberadaan kota ini tidaklah lepas dari kerajaan Kutai dan Mulawarman. Alkisah, ketika pada jaman Kolonial Belanda terjadi banyak perlawanan di daerah yang melibatkan beberapa kerajaan di Nusantara. Salah satunya Kesultanan GOWA, yang dipimpin oleh Sultan Hasanudin, namun sang Sultan mengalami kekalahan akibat beberapa pengkhianatan dari anak bangsa. Sultan pun terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaja yang ditawarkan oleh pihak kompeni. Melalui perjanjian ini lah orang-orang bugis dipaksa untuk tunduk dan patuh terhadap Belanda. Akan tetapi banyak dari sebagian orang-orang bugis ini memilih untuk melarikan diri ke pulau-pulau lainnya untuk menyelamatkan diri daripada harus tunduk dan patuh kepada penjajah. Orang-orang bugis ini pun meminta perlindungan dan bantuan kepada kesultanan Kutai, dimana kala itu Kutai telah menjadi Kerajaan Islam dengan Kesultanannya. Sultan Kutai ini pun menempatkan rombongan orang-orang bugis di sekitaran sungai mahakam, dimana secara geografis memiliki daratan yang sama rendah dengan sungai. Sehingga orang-orang bugis tersebut menyebut pemukiman baru mereka dengan nama Samarenda, namun kelama-lamaan akhirnya ejaannya menjadi Samarinda.
Simbol kemegahan dan keagungan arsitektur Islam

Tak heran banyak nama daerah dan pemukiman penduduk di Samarinda diberi nama dengan bahasa bugis seperti halnya LOA, Pua Ado, hingga Daeng. Terlepas dari sejarah tersebut, nuansa Islam sangat kental mewarnai kota samarinda, apalagi kelahiran kota ini juga terjadi dari upaya untuk melindungi sesama umat muslim, dimana kerjaan GOWA pun juga adalah kesultanan Islam terbesar di Nusantara kala itu. Nuansa Islam itu semakin terasa kental setelah kita menelusiri sungai mahakam, dimana disana banyak berdiri masjid-masjid yang berumur sangat tua, seperti salah satunya masjid Mesjid Darrunni'mah. Hal ini menadakan bahwasanya sungai yang menjadi pusat kehidupan kota Samarinda ini adalah sebagai pemukiman muslim. Seminggu di Samarinda saya selalu menelusuri sungai Mahakam untuk menuju ke Lokasi Galangan Kapal, tetapi tidak ada sesuatu yang dapat menarik perhatian saya selain Islamic Center Samarinda. Ya!, Islamic Center yang berdiri kokoh di pinggir sungai Mahakam ini menambah keindahan Samarinda, apalagi jika dikombinasikan dengan Jembatan Mahakam yang telah lebih dulu dibangun. Islamic Center Samarinda sendiri belum menyelesaikan seluruh pembangunannya, jika dikelilingi bangunan yang menghabiskan triliunan Rupiah ini masih terdapat proses penyelesaian di beberapa bagian masjid.

Pemandangan dari atas jembatan sungai Mahakam

Islamic Center Samarinda ini jika dilihat dari atas Jembatan Mahakam, akan terlihat lebih indah dan sangat megah. Mengingatkan saya dengan Masjid Nabawi di Madinah, menara dan kubah yang menjulang tinggi, luas area yang mencapai 12 hektar lebih lengkap dengan asrama, sekolah, dan gerbang-gerbang tinggi menjulang bak arsitektur turki semakin membuat saya tidak akan melupakan keindahan arsitektur rumah Allah SWT ini. Masjid ini berdiri di atas lahan yang dulunya merupakan bekas tanah milik perusahaan kayu PT Inhutani 1 yang diwakafkan ke Pemerintah Kaltim. Bahkan pembangunan kala itu, termasuk keputusan fenomenal mengingat, banyaknya Dana yang dikeluarkan untuk merealisasi proyek besar pertama Kaltim ini.Waktu saya berkunjung ke Islamic Center tepat ketika akan memasuki waktu maghrib, dimana matahari akan mulai turun dan menutup keindahan hari dilangit khatulistiwa Borneo. Tiba di masjid terbesar kedua di Asia Tenggara, setelah masjid Istiqal di Jakarta ini saya langsung menuju kedalam masjid untuk melihat-lihat Islamic Center Samarinda. Saya beserta teman saya yang bernama Amad seorang lulusan Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya ITS begitu terkaget, sekaligus bangga dengan bangunan yang super megah itu. Islamic Center ini memiliki ruangan wudhu yang sangat bersih, mewah, dan elegan, kamar mandi yang sangat nyaman dan tentunya canggih. Hebatnya lagi kita tidak dipungut biaya untuk menikmati fasilitas tersebut, termasuk pakiran Islamic Center. Untuk menuju ke lantai yang lebih tinggi, Islamic Center dilengkapi dengan elevator, juga lift, serta jalur khusus penyandangan cacat, Interior bangunan pun tidak kalah megah, lampu cristal yang menawan, lampu dinding yang unik yang bertemakan tulisan kaligrafi, dinding-dinding masjid yang dihiasi dengan asma ul husna', dan pegawai-pegawai yang ramah, mulai dari petugas kebersihan hingga supervisor. Mereka selalu menjawab pertanyaan dari saya, dengan ketulusan hati dan bersahabat. Dimana kondisi ini tidak saya dapatkan di Masjid Sunan Ampel sekalipun. Berbeda dengan masjid Sunan Ampel yang masih dipengaruhi dengan alkuturisasi dari budaya lokal dan hindu-budha lewat arsitektur bangunannya, Islamic Center Samarinda telah mengadaptasi aristektur timur tengah dengan perpaduan unsur Eropa dan Nusantara.

Menara Islamic Center Kokoh dan Menjulang Tinggi

Tempat Wudhu Islamic Center

Lampu yang di langit-langit Masjid

Lampu dinding ini mirip UFO, itu yang membuat saya tertarik untuk memotretnya


Beranda Islamic Center Samarinda

Tempat pilihan di waktu senja, seperti yang dilakukan dua warga Samarinda ini

Puas melihat-lihat keindahan interior Islamic Center Samarinda, saya dan amad menuju beranda masjid untuk menghabiskan waktu di Sore hari yang indah itu. Melihat kesibukan orang yang melalui jalan raya yang berada persih disamping Sungai Mahakam, menjadi hiburan tersendiri bagi kami. Tidak hanya itu kita juga bisa sekaligus mengamati lalu lalang transportasi yang hilir-mudik di Sungai Mahakam. Tidak hanya kapal-kapal tug boat, dan tongkang pengangkut batu bara saja yang bisa masuk ke sungai Mahakam. Kapal-kapal tanker pun banyak lalu lalang melintasi sungai yang menjadi tempat endemik Ikan Pesut ini. Pesona Mahakam di kala Senja ini menjadi semakin indah jika di nikmati dari Islamic Center Samarinda. Belum lagi melihat aktifitas penduduk Samarinda atau bahkan pengunjung yang sengaja datang dari luar pulau atau propinsi lainnya di luar Kaltim. Seperti halya Pak Suriansyah yang berasal dari Banjarmasin Kalimantan Selatan, beliau menyempatkan diri berkunjung disela waktu tugas dinas kantornya. Belum lagi pak Teddy yang mengenakan wearpack bertuliskan TOTAL Oil n Gas, pastinya pria asli Jember ini mencoba menghabiskan waktu untuk istrihat sejenak, sembari ingin menunaikan salat maghrib di Islamic Center Samarinda. Menyesal saya tidak dari awal ke Islamic Center ini, kenapa saya selalu tenggelam dengan rutinitas kerja dan tidak menyempatkan diri dari awal untuk berkunjung ketempat yang sungguh indah ini. Hati ini semakin tertegun miris, kala melihat segerombolan orang tua dan muda dari klub-klub dan komunitas fotografi, membawa kamera DSLR, asyik mengambil gambar dari berbagai angle. Ah sial!! saya hanya bermodalkan kamera Pocket, dan tentunya hasilnya tidak sebegitu bagus jepretan mereka. Kekecewaan itu sedikit berkurang setelah berdiam diri dan menikmati nikmatnya menunggu senja di Samarinda. Kemujuran tidak memihak saya, maksud hati ingin melihat Samarinda dari atas menara Islamic Center Samarinda seperti halnya dengan menara yang ada di masjdi Al- Akbar Surabaya, namun karena masih dalam tahap maintenance menara tersebut tidak dapat di akses.

Melalui menara ini kita bisa melihat seluruh isi kota Samarinda

Senja di Islamic Center, sungguh sangat indah

Arsitekturnya konon menyerupai Masjid Nabawi di Madinah

Dari beranda depan masjid hingga gerbang didepan

Islamic Center sering digunakan sebagai lokasi hunting komunitas fotografi

Hampir ditiap penjuru, para fotografer ini mengambil foto. Bahkan ada yang membawa Modelnya.

Simbolisasi kebersamaan masyarakat Samarinda

Namun tekad saya sudah kuat, saya harus pulang ke SBY dengan membawa liputan Islamic Center Samarinda. Alhasil pun saya juga berasyik ria untuk mengambil gambar. Saya tidak ingin menikmati keindahan Islamic Center ini sendirian, akan saya share untuk teman-teman melalui MOD ini. Saya akan bagikan bagaimana keindahan Islam Nusantara di Samarinda, bagaimana bahagia dan cerianya penduduk Samarinda, keindahan langit dan matahari senja yang menyelimuti Islamic Center Samarinda, Serta semangat kebersamaan masyarakat Samarinda yang tersimbolisasikan melalui keelokan dan kemegahan Islamic Center Samarinda.

Semoga di lain kesempatan saya masih bisa berkunjung

Cukup sekian liputan Mengikuti Jejak Islam Nusantara, edisi spesial dari MOD yang kedua setelah masjid Sunan Ampel Surabaya. Berikutnya MOD akan tampilkan liputan mengenai landsmark di Samarinda yang beberapa tempat telah saya munculkan di tulisan ini. Semoga dapat menambah pengetahuan pembaca akan melimpahnya ramhat Allah diatas bumi Nusantara, melalui Jejak Islam Nusantara.

note : tulisan yang ditulis ditengah-tengah beban kuliah yang telah menerpa dengan deras sang penulis.
Ingin melihat foto dengan hasil yang terbaik klik di foto

31 Mei 2009

Malang Tempo Doeloe 2009, Rekonstruksi Jatidiri Malang



Foto : Fajjar Nuggraha
Naskah : Fajjar Nuggraha

Saya termasuk orang yang sering sekali mengunjung Malang, namun edisi spesial yang menjadi icon kota Malang seperti Malang Tempoe Doeloe dan Pekan Raya Malang selalu saya lewatkan. Tidak ingin acara yang dalam rangka menyabut Hari Jadi Kota Malang ini terlewatkan kembali. Maka saya memutuskan berangkat menuju Malang Sabtu (23/5) minggu lalu. Malang Tempoe Doeloe atau yang akrab disebut dengan MTD saja ini digelar selama empat hari mulai tanggal 21-24 April 2009 di sepanjang jalan Raya Ijen. Berangkat dari Surabaya dengan cuaca yang cerah selepas siang hari, dan tiba di Malang sudah disambut dengan cuaca mendung, seakan langit mau tumpah meradang dengan tetesan airnya. Tiba di Malang tepat pukul 3 sore hujan sudah turun dengan derasnya, hingga terpaksa dibuat menunggu lama diterminal Arjosari. Akhirnya batal lah rencana saya untuk ke MTD sore itu, dalam hati saya bergumam semoga saja malam ini tidak hujan. Walaupun hujan masih turun rintik-rintik saya paksakan saja ke MTD malam itu, sial memang kunjungan saya ke MTD kali tepat dengan malam Minggu, otomatis masyarakat Malang sendiri tumpah ruah di seluruh pintu masuk MTD yang tersebar di empat jalan masuk menuju Jalan Raya Ijen. Saya sendiri memutuskan masuk dari arah depan Jalan Ijen sesampainya disana meskipun disambut dengan rintik-rintik hujan terlihat pemandangan bikin nyali ciut untuk meneruskan masuk ke MTD. Bagaimana tidak, Jalan yang merupakan jalan satu arah itu menjadi dipenuhi oleh para pejalan kaki dan kendaraan bermotor. Akibatnya hampir tidak ada celah sama sekali disana.
Padat merayap, ngalahin kemacetan di Tol Porong

Kondisi kemacetan yang cukup parah ini membuat Mbak Dani yang merencanakan week end ke MTD menjadi gagal. Mobil yang membawa Humas ITS ini mengalami kesulitan untuk memasuki area Jalan Ijen. Akhirnya Mbak Dani memutuskan pulang dan Mampir sejenak ke Malang Olympic Garden (MOG). Mbak Dani orang kedua yang gagal janjian ketemuan dengan saya di MTD, selain si Lutfiana Maryetin Mahasiswi Statistika ITS yang pulang duluan di Siang harinya setelah menyelesaikan tugas surveynya di Malang. Mungkin saya juga akan membatalkan ke MTD malam itu, kalau saja saya tidak berdarah Bonex, darahnya yang sedang mengalir kencang di tubuh akibat tempaan kuliah di ITS. Menerobos masuk ke pintu gerbang MTD tidaklah mudah, selain harus melawan arus balik yang ingin keluar dari Ijen, tubuh kita terkadang juga harus beradu dengan sepeda motor yang memang di parkir di kompleks Ijen. Dengan sedikit usaha yang cukup berat akhirnya saya juga berhasil memasuki jalan Ijen. MTD kali ini sendiri mengambil tema Rekonstruksi Jatidiri, dimana upaya untuk memunculkan kembali jatidiri Malang yang hampir punah. MTD sendiri dibagi menjadi beberapa Zona, antara lain Zona peralihan pemerintahan Stadgeemente-kotapraja, Zona kegigihan perjuangan arek-arek Malang, Zona ekonomi kerakyatan masyarakat Malang, Zona pondasi pendidikan dasar di Malang, Zona Keragaman budaya dan budidaya pangan. Selain itu banyak kegiatan-kegiatan unik dan bergenre jadul berada di kawasan Ijen ini. Belum jauh melangkahkan kaki ke pusat MTD, saya sudah terkesima dengan jajanan khas Malang, yang menurut saya lumayan lengkap dijual di MTD ini. Makanan dan Minuman dari jaman Ken Arok hingga Kennedy juga ada disini. Di stand pertama saya langsung diberi sungguhan gratis oleh bu Narmi, penjual Ireng-ireng. Jujur baru kali ini saya mendengar jajanan dengan nama itu. Ireng-ireng sendiri adalah makanan yang berbahan dasar ketan, kemudian diberi taburan parutan kelapa kemudian untuk menambah kelezatan ireng-ireng biasanya di beri saus gula merah diatasnya. Dilihat sepintas makanan ini mirip dengan dodol Garut. Enaknya lagi saya diberi makanan yang katanya khas ini gratis.
Bu Narmi dengan Ireng-Irengnya

Tidak jauh dari stand Bu Narmi, saya bertemu dengan Pak Suharjo penjual segala panganan tempo doeloe. Tapi ada dua hal yang bikin saya tertarik dengan stand pak Harjo begitu biasa dia dipanggil. Pertama adalah rokok Klobotnya dan kedua tape bakar, serta ketan bakarnya. Yang kedua ini gara-gara, lagi-lagi saya dikasih gratis untuk mencicipinya. Sebenarnya rasanya rada gurih dan berasa asam karena tape, yang lebih enak lagi Ketannya, tentunya bisa dibayangkan gurihnya ketan itu. Perihal rokok klobot sendiri, saya masih ingat sekali ketika kakek saya dulu merokok dengan semacam rokok ini, bedanya kalau di kalimantan rokok klobotnya dilinting dengan daun yang saya ga tau namanya. Namun di MTD ini saya melihat rokok yang menjadi cikal bakal rokok Indonesia di linting dengan daun/ atau apalah namanya yang penting dia berasal dari material yang ada di jagung. Rokok klobot sendiri dijual dengan harga Rp 2000, untuk 3 batang. Bagi para Ahli Hisab (Perokok,red) tentunya rokok Klobot bisa menjadi pilihan di MTD.
Rokok Klobot dan Tape & Ketan Bakar pak Harjo

MTD 2009 kali ini juga tidak menjadi ajang parade kuliner khas Malang-an dan jadul-jadulan. Tapi juga menjadi ajang para insan kreatif yang walaupun dianggap sebagian orang hanya merupakan sebuah karya yang biasa-biasa saja, namun tidak buat saya. Misalnya saja penjual alat parut segala bentuk dan rupa. Dengan memanfaatkan bahan seadanya, Pria ini bisa menjual dan mendapatkan untung dari mesin parutnya. Atau lain lagi dengan Bapak yang bermain musik dengan memanfaatkan seluruh kemampuan dirinya meskipun beliau Tunanetra, Bapak ini bermain musik nonstop tiada henti. Soalnya sejak saya berangkat menuju ke jalan Ijen yang paling pojok, sampai saya memutuskan pulang di Jam 11 malam, bapak ini tiada henti memainkan musiknya. Lain lagi dengan Mike mahasiswi Jurusan Akuntasi Brawijaya ini, dia bersama teman-temannya membuat ukiran Topeng khas Malang. Topeng yang juga merupakan tokoh perwayangan ini membuat daya tarik sendiri bagi pengunjung MTD malam itu. Untuk satu Topeng dipatok harga 75 ribu rupiah. Tak ayal ukiran ini menjadi laris manis dibeli oleh pengunjung MTD.

Mesin Parut Sederhana namun cukup lengkap

Mulut, Tangan, dan Kaki semua dipakai
Topeng Dewi Ayu Sekartaji

Perjalanan saya di MTD juga cukup melelahkan, apalagi ditambah suasana jalan bak kondisi lempar jumroh. Sangat padat sehingga membuat sulit mengambil nafas dan udara segar waktu itu. Sesekali saya pun menyempatkan diri untuk berhenti menikmati pementasan yang ada di MTD kali ini. Pementasan yang pertama adalah tarian etnik yang dibawakan sekelompok pria dan wanita ini mengundang sejumlah mata pengunjung MTD untuk bergumul dan berkumpul untuk menyaksikan tarian yang dibawakan oleh 5 Wanita yang berbusana perdesaan. Sedangkan yang pria memainkan gendang atau rampak, Alunan musiknya yang bikin saya tertarik dengan penampilan ini. Membuat saya tetap terus semangat untuk menyusuri jalan Ijen hingga ke akhir jalan. Tidak jauh dari itu Kelompok pemusik tahun 70'an juga hadir di MTD dengan panggung yang sederhana, Group Band dengan vokalis wanita ini menyanyikan lagu-lagu yang hit di tahun 1970-an. Ternyata musik jadul juga banyak peminatnya, jadi tak ayal banyak para peminat musik yang rela berdiri untuk mendengarkan sang biduwan ini bernyanyi. Di tengah jalan Jalan sekitar monumen kendaraan tua yang memang di pajang di Jalan Ijen terpapang Panggung pergelaran wayang orang, tidak kalah dengan banyak peminatnya dengan konser musik tadi, wayang orang pun menjadi sungguhan favorit di MTD 2009.

Alunan Musiknya yang bikin semangat

Pagelaran musik 70'an di MTD 2009

Cerita Pewayangan masih menjadi tontonan seru di MTD

Tidak lengkap memang kalau di Malang Tempo dulu tanpa melihat berbagai barang-barang unik dan cukup kuno. Sebenarnya hampir semua pekakas dan peralatan yang berada dijaman kolonial hadir dipamerkan pada ajang rekonstruksi jatidiri ini. Namun saya tidak dapat mengabadikan semuanya kedalam liputan MOD kali ini. Mungkin bagi para penggemar sepeda cukup beruntung, karena saya sempat mengabadikan sebuah sepada antik yang berasal dari tahun 1963. Sepeda yang oleh pemiliknya ini dinamakan Philip ini menjadi kebanggan pak Hardiman kalau sudah perhelatan MTD dimulai. Sepeda yang menjadi warisan turun menurun keluarganya ini sudah beberapa kali ditawar untuk dibeli oleh para kolektor-kolektor benda kuno. Tawaran tertinggi penah jatuh di harga 70 juta, namun semuanya di tolak. Yang cukup membuat decak kagum adalah keberadaan radio kuno dari tahun 1946, oleh pemiliknya yang akrab di panggil Alex ini, radio ini merupakan peninggalan kakek buyutnya. Menurutnya dulu kakek bunyutnya mengetahui kabar bahwa Indonesia Merdeka adalah melalui radio ini. Maklum saja waktu itu kabar Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya baru tersebar 1 hingga 2 tahun setelah Kemerdekaan akibat terbatasnya komunikasi di jaman Kolonial. Tidak kalah menarik dari stand yang memamerkan radio-radio tua ini, terdapat sebuah stand yang menjual semacam lukisan yang dibentuk dengan menggunakan berbagai motif kain batik Malang-an. Namun harganya cukup mahal, tapi sesungguhnya saya ingin juga benda ini untuk pajangan atau oleh-oleh orang dirumah.

Si Philip

Radio merupakan satu-satunya media komunikasi saat tempo dulu

Dua pasang tokoh pewayangan Malang yang diabadikan lewat balutan kain batik

Ternyata antusias dari masyarakat Malang sendiri terhadap acara MTD sungguh sangat membuat iri saya yang untuk saat ini berdomisili di Surabaya. Malang dengan segala keindahan alamnya, objek pariwisatanya yang menjanjikan, akan menjadi tatapan beberapa orang yang adai di Jawa Timur khususnya, atau mungkin dari luar Jatim apabila perhelatan MTD telah dimulai. Berjumbelnya pengunjung MTD hari ini menjadi bukti betapa masyarakat Malang tidak lupa dengan Jatidirinya sendiri. Jangan masyarakat lokal yang meramaikan ajang MTD tahun ini, tidak sedikit di setiap seluk beluk jalan Ijen kita jumpai warga negara asing yang memang berniat hadir di MTD tahun ini. Mungkin mereka juga turut mengikuti jejak para nenek moyang mereka yang menjadi kolonial di Nusantara waktu itu, atau saja hanya sekedar memanjakan diri dengan kondisi masa lampau melalui jajanan kolonial yang turut di jual di MTD tahun ini. Namun dengan hadirnya segala sesuatu yang berbau koloni, tidak membuat unsur tradisi lokal dan Malang turut luntur di MTD. Misalnya saja masih banyaknya peminat wayang beber yang dijual ataubahkan wayang-wayang khusus yang memang hanya dipamerkan. Belum lagi berbagai pentas seni dan budaya khas Nusantara yang turut meramaikan MTD juga tidak sepi didatangi oleh para pengunjung.

Bule yang tertarik dengan jajanan khas Kolonial yang dijual di MTD

Penggemar Wayang Beber

Semoga acara keren abis ini tetap bisa saya kunjungi ditahun-tahun mendatang, dan tentunya semoga juga Surabaya menyelenggarakan acara serupa. Toh Surabaya tidak kalah dalam hal relief-relief kuno dan peninggalan kolonialnya. Cukup sekian dulu liputan MOD kali ini, kita akan berjumpa lagi dengan liputan-liputan yang mantab dan makyus.

25 Mei 2009

Senam Pagi, Rutinitas Siskal di Sabtu Pagi


Foto : Fajjar Nuggraha
Naskah : Fajjar Nuggraha

Sekarang ada sesuatu yang baru di hari Sabtu pagi di Jurusan Teknik Sistem Perkapalan ITS, selain hari Sabtu juga dijadikan hari perkuliahan. Teman-teman di Jurusan Teknik Sistem Perkapalan juga dapat melakukan senam pagi dengan dipandu oleh trainer-trainer terlatih. Acara yang muncul dari ide sekretaris jurusan Teknik Sistem Perkapalan Ir Dwi Priyanta MSE ini menjadi kegiatan yang akan rutin terus digelar setiap sabtu paginya. Menurut Pak Dwi mahasiswa siskal jarang berolahraga, sehingga banyak yang jatuh sakit. Selain itu kegiatan ini juga bermaksud untuk saling mengenal antar sesama mahasiswa Siskal yang terbagi dari berbagai angkatan.

Senam yang digelar di depan monumen mesin diesel Siskal

Panitia kegiatan ini dilimpahkan pada setiap laboratorium yang ada di jurusan yang menjadi korban pertamanya adalah Lab Marine Design and Manufacture. Anak-anak Lab Design, biasa kita memanggil lab yang di CEO-in sama bang Kentas ini, menyajikan hidangan bubur kacang ijo yang sehat sekaligus trainer dari UNESA. Malapetaka nampaknya bagi Trainer ini, mahasiswi yang pandai memandu senam aerobik ini belum menguasai medan tempur dengan seksama. Bukannya senam yang serius dilakukan, kebanyakan anak Siskal malahan menggoda si Trainer. Jadilah senam pagi yang seharusnya serius, jadi ajang senam sambil tertawa. Namun disinilah letak kebersamaan kita, selain senang-senang melepas penatnya beban perkuliahan, setidaknya tubuh menjadi fresh kembali dengan senam pagi ini.

Foto yang diambil dari lantai 7 Perpustakan ITS
Kegiatan ini diikuti seluruh fungsionaris Himpunan, Pengurus Lab, dan Teman-teman Mahasiswa Semua angkatan di Siskal

Lihatlah betapa kompaknya arek-arek Siskal mengikuti setiap gerakan Trainer

Kalau urusan senam mahasiswa Siskal memang tidak ada matinya, tiap tahun ajaran baru pun ketika Marine Day selesai dihelat teman-teman Himpunan selalu menggelar senam pagi guna mengakrabkan mahasiswa baru dengan para seniornya. Biasanya kegiataanya dirangkai dengan bakti himpunan atau bakti jurusan. Namun kali ini untuk menciptakan selalu kondisi kebersamaan tersebut, Sekjur Siskal Pak Dwi mengusulkan agar kegiatan senam pagi ini terus digelar tiap minggunya. Selain seperti yang saya jelaskan diatas, senam ini juga bertujuan untuk mengakrabkan kembali semua angkatan yang ada di Siskal. Baik mulai dari angkatan yang paling muda ( Angkatan 2008,red) hingga angkatan yang paling tua. Senam ini juga menanggapi kinerja Himpunan Mahasiswa Teknik Sistem Perkapalan (HIMASISKAL) dalam menggelar Marine Icon 2009. Jadi dibalik kegiatan ini juga terdapat maksud untuk mempererat kerjasama antar angkatan, sehingga ketika Himpunan mengadakan kegiatan. Seluruh mahasiswa Siskal mampu saling bekerjasama dan bersinergi.

Pak Dwi ketika menanyai teman-teman 2007 perihal kenal atau tidak dengan beberapa senior yang ikutan senam pagi.

Bagi-bagi burjo gan, Cak Solechan ingat Oscar ma Ivan mau juga tuh

Feris yang Punya Gawe

Benar-benar mantap acara arek Siskal satu ini, minggu ini giliran teman-teman dari LaB Mesin Fluida yang punya gawe. Kita nanti kan saja apakah akan seheboh kegiatan senam yang pertama atau bagaimana. So pasti dijamin badan segar, perut juga hehehehe, bagi teman-teman jangan lupa datang pada kegiatan yang akan digelar pada hari Sabtu ini. Lumayan hitung-hitung memanjakan badan sebelum Ujian Akhir Semester (UAS) dan Tugas Rancang yang cukup berat. Berikut beberapa foto pada senam pagi arek Siskal.

Sang Pencetus ide, Pak Dwi Priyanta

Afif Sang Komting Pertama Meriam 06

Oscar nampaknya menikmati banget senam hari itu

Azim and Foi tumben akur mereka.

Ivan udah berapa kali nambah burjo loe?
Berikut Srikandi-srikandi Siskal :


Oci dengan kaoes angkatannya..Merah Maroon..

Mbak Poni ngelamuni sapa tuh?

Mbak Ratih ma Si jepang main putih-putih kulit nih...hehehehe

Terakhir kita semua menunggu persembahan dari Lab Mesflu untuk minggu ini semoga semakin hebob dan tambah seru. Berikut foto salah satu penghuni lab mesflu sukma adi, foto diambil snapshot tanpa dia sadari.

Ehmm baunya aja dah segar gini...apa lagi kalau dah ditengorokan nih Burjo...

13 Mei 2009

ITS Bersiap Hadapi KRCI & KRI 2009

Rektor ITS Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD

Foto : Fajjar Nuggraha
Text : Fajjar Nuggraha

Tahun ini ITS kembali menjadi tuan rumah KRCI & KRI 2009 Regional IV, dimana peserta Regional IV berasal dari universitas dan perguruan tinggi negeri yang berada di wilayah Indonesia Timur. Tim ITS sendiri berasal dari tiga badan, yakni ITS, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) ITS, dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS. Pada kesempatan jumpa pers dengan berbagai harian media cetak maupun elektronik, Rektor ITS Priyo Suprobo juga menyampaikan rencana ITS yang akan membangun pusat Robotika Nasional. Hal ini wajar dalam berbagai kesempatan event robotika nasional maupun internasionl, ITS selalu saja berperan aktif bahkan ikut mengambil posisi juara. di KRCI & KRI sendiri ITS telah menyapu bersih gelar juara dari awal penyelenggaraan KRCI&KRI. Menurut Probo juga pusat robotika nasional ini nantinya kedepan selain berguna untuk memberikan layanan research dan akademik mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi robot, fasilitas yang rencananya dalam satu tahun ini akan segera dimulai pengerjaannya akan dijadikan juga sebagai wisata pendidikan. Kedepannya pusat robotika ini juga akan dijadikan fasilitas pendukung dari dunia industri untuk menyediakan dan membantu perencaan mesin-mesin dan robot-robot otomatis. Pusat robotika ini juga menambah daftar kepercayaan masyarakat terhadap ITS, sebelumnya ITS juga telah mendirikan Pusat Rekayasa dan Desain Kapal Nasional atau yang dikenal dengan Nasdeq.
Seperti halnya anak burung yang ditemukan di tempat latihan tim ITS ini, semoga Pusat Robotika Nasional menjadi harapan baru yang cerah yang lahir dari Kampus Perjuangan.

Sedangkan pada KRCI & KRI 2009 ini mengambil tema Gotong Royong Tabuh Bedung Dimana tiap tim dinyatakan menang apabila sampai garis finish dan memukul bedug. Hal ini menjadi sulit selain medan tempur pada KCRCI & KRI 2009 yang berliku-liku, terdapat tanjakan yang cukup tinggi. Pada tanjakan ini, robot dari tiap peserta harus menandu robot otomatisnya sebelum menuju tempat bedug. Total ada 22 tim KRI dan 55 tim KRCI yang akan berlaga di Regional IV ini. Bagi KRCI, untuk pertama kalinya robot yang berlaga diperbolehkan melakukan battle seperti pada KRI. Dengan peraturan ini tentunya KRCI semakin seru dan menarik untuk disimak. Bahkan Robot yang berlaga kali ini juga diperbolehkan untuk menghambat bahkan mengambil poin milik tim lainnya. Bahkan bisa dibilang melakukan kelicikan pun diperbolehkan asal itu merupakan bagian dari strategi tim. Pada KRCI & KRI 2009 ini juga lahir cabang baru yakni Kontes Robot Seni Indonesia (KRSI) sebagai pertandingan ekhsibisi. Dalam kontes ini tidak ada seleksi tingkat regional, tetapi langsung menuju ajang nasional. Pada KRSI ini robot akan dinilai dari kemampuannya melakukan aktivitas kesenian di pentas.

Kondisi lapangan latihan dari TIM ITS untuk persiapan KCRI & KRI tahun ini

Adapun tema yang diambil disesuaikan dengan tema internasional Travel Together for the Victory Drums yang merupakan aturan dari ajang internasional ABU Robocon 2009 di Tokyo, Jepang pada 22 Agustus mendatang. Tim terbaik dari KRCI & KRI sendiri akan mewakili Indonesia di ajang tersebut. Beruntung bagi-bagi teman- teman ITS karena KRCI & KRI 2009 Regional IV akan segera dihelat di Graha Sepuluh Nopember ITS akhir pekan ini, (16-17/5). Dijamin pada pertandingan nanti akan menyuguhkan penampilan terseru dan teraktraktif. Mengingat regional IV sendiri merupakan group neraka dimana selalu menjadi perwakilan terbaik di tingkat Nasional maupun internasional.
Robot Bolokulowo, dengan operatornya mas Gigih

Berikut pada liputan kali ini saya lengkapi dengan animasi peraturan dari KRCI & KRI 2009, semoga menambah pengetahuan.


video

Untuk memuaskan dahaga para pencinta robot, pada posting kali ini juga saya sisipkan beberapa aturan dari pageleran ABU Robocon di Tokyo Jepang mendatang. Tema yang diambil ternyata berasal dari kebiasaan travelling masyarakat Jepang dulu kala, dimana selalu menggunakan tandu untuk membawa ataupun mengangkut seorang bos dan orang pentingya. Oleh sebab itu tema pada tahun ini yakni Travelling Together for The Victory Drums, dimana tiap tim harus mampu manabuh drums yang terdapat tiga tingkatan. Tandu yang menjadi ciri khas dari bagian budaya masyarakat Jepang sendiri adalah Kago, dimana kago merupakan salah satu alat transportasi yang cukup diminati pada dinasti han dan seterusnya. Robot yang ditandu oleh Kago ini sendiri dinamakan robot traveler yang merupakan robot otomatis, kesulitan terjadi pada halangan berupa rintangan tanjakan setinggi 30 cm dimana dibutuhkan keseimbangan yang mantap dan kecepatan yang mampu mengatasi kestabilan yang cukup dari tandu beserta robot manual yang dikendalikan oleh operator. Untuk lebih jelasnya lagi pembaca MOD setia dapat melihat langsung sejarah awal dari tema lomba ini dan beberapa aturannya melalui video berikut ini.

video

Sekian dulu posting saya mengenai kontes robot 2009 kali ini, ikuti perkembangan terkini KRCI & KRI 2009 di MOD. Sampai jumpa...

TRISKAIDEKAPHOBIA

Ilustrasi : Fajjar Nuggraha
Foto : Fajjar Nuggraha
Text : Fajjar Nuggraha

Isi disadur dari berbagai sumber

Awal perkuliahan saya di ITS, ketika mendaftar ulang di Gedung SCC ( Student Comunity Center). Saya ditanya oleh seorang teman, "jar dapat no urut berapa (NRP maksudnya, maklum kita belum tau sebutan absen di ITS waktu itu adalah NRP)," ujar seorang teman itu. Saya dengan bahagianya bilang dapat nomer absen 13 nih. Waduh bakal sial kamu jar, balas teman saya yang juga satu dearah dengan saya itu. Itulah awal perjumpaan saya dengan angka 13 ini, perjumpaan itu dalam bentuk NRP 4206100013, dimana angka 42 berarti kode jurusan saya Teknik Sistem Perkapalan dengan keterangan 4 adalah kode Fakultas Teknologi Kelautan, kemudian 2 adalah Jurusan Teknik Sistem Perkapalan, kemudian 100 adalah kode untuk mahasiswa reguler diluar program lintas jalur ataupun ekstensen, yang kemudian 013 adalah nomer urut saya didaftar mahasiswa siskal angkatan 2006. Bagi saya mendapatkan NRP 13 tidak lah menjadi suatu masalah besar, sampai saat ini saya masih belum mendapatkan kendala berarti di perkuliahan, indeks prestasi saya juga masih lancar-lancar aja, jodoh juga.hehehehehehe. Namun terkadang memang pemilik NRP 13 harus was-was kalau dapat matakuliah dari pak Dwi. Beliau sering merendom memanggil mahasiswa di kelas untuk mengerjakan soal dengan menggunakan no NRP bahkan tanggal atau pun menjumlahkan antara tanggal dan bulan. Akibatnya saya pernah maju 2 kali berturut gara2 hal tersebut, pertama gara2 NRP saya, kemudian karena tanggal pada hari tersebut bertepatan dengan tanggal 13.

Namun secara keseluruhan saya tidak merasa sial dengan memiliki NRP 13, malahan saya juga jatuh cinta dengan angka ini. Atau angka ini yang jatuh cinta sama saya, sampai-sampai terus-terusan mengikuti saya. Mungkin pembaca MOD yang setia tidak akan percaya kalau saya selalu diikuti oleh angka ini untuk beberapa kejadian dan event. Misalnya saja no HP saya 0857xxxxx313, no HP yang dibeli oleh Anggie ini memiliki unsur angka 13 diakhir. Kunjungan pertama saya di Bioskop 21 Matos Malang juga tidak kalah seru, dua kali saya nonton di bioskop tersebut saya mendapatkan kursi yang tersisa yang bernomer urut 13.Kemudian ketika saya ingin mendaftarkan diri ikutan les bahasa Inggris baru-baru ini, untuk tes LCPTnya saya mendapatkan no. urut 13, dan yang tidak kalah anehnya lagi setelah memasuki ruangan tes saya mendapatkan no.soal 130, dimana soal tersebut memang terdiri dari 3 digit yang dimulai dengan angka 110. Aneh kan?dalam satu kesempatan saya diikuti oleh angka 13. Masih banyak lagi kejadian unik, aneh, mengesankan lainnya dengan angka tiga belas, namun kalau saya ceritakan tentu tidak akan habis 10 judul buku. Oleh karena kejadian- kejadian inilah saya langsung melakukan investigasi terhadap angka yang menurut kebanyakan orang merupakan angka sial ini. Selain penasaran tentunya saya ingin tau ada apa dibalik angka 13 ini.

No.urut Tes LCPT UPT Bahasa dan Budaya ITS


No.Soal


No urut kursi Bioskop 21 Matos Malang

Kalau diperhatikan lagi sebenarnya angka 13 ini banyak dijumpai pada benda-benda yang berada disekeliling kita. Misalnya saja pada kode Barcode produk-produk keluaran pabrik baik pabrikan dalam maupun luar negeri, Simbolisasi logo-logo perusahaan multinasional milik Amerika Serikat, seperti Microsoft, McDonald, dan banyak lainnya, angka 13 juga terdapat pada rumus-rumus geometri pada patung liberty dan gedung monumen Washington DC. Bahkan pada simbol elang lambang dari Amerika Serikat juga dijumpai keberadaan angka ini. Hingga bilangan batu permata yang ada di Cruix Gemmata, salib yang bertaburkan 13 batu mulia juga menambah panjang daftar bangunan dan benda bersajarah lainnya yang memiliki unsur angka 13. Terkadang angka 13 juga dikaitkan dengan bentuk penyembahan pada setan, ataupun semacamnya yang serupa dengan angka 666. Dalam kepercayaan kristiani kuno angka 13 dikait-kaitkan dengan ISA dengan 12 muridnya, ataupun kepercayaan Yahudi yang menyatakan 12 suku Yahudi dan satu suku Yahudi dunia (Yahudi yang tidak memiliki keturunan langsung). Banyak yang percaya posisi angka 13 setelah angka 12 yang merupakan angka sempurna, menjadikan angka 13 sebagai prime number yang banyak ditakuti oleh sebagian orang. Sehingga ketika kita jumpai pada nomor tempat duduk di pesawat maupun hotel-hotel berbintang, dan no urut lantai dari gedung-gedung pencakar langit, tidak kita jumpai angka 13 didalamnya. Kebanyakan dari tiap orang merasa takut mencatumkan angka tersebut.

Rasa ketakutan dengan angka 13 dan segala bentuk penjelmaan dan visualisasi angka tersebut dinamakan Triskaidekaphobia. Akibat rasa takut yang berlebihan terhadap angka ini membuat hampir kalangan mendapatkan kerugian yang sangat menganggu. Misalnya saja Paul Hoffman, di dalam Smithsonian Magazine (Febr, 1987), menyatakan jika fobia terhadap angka 13 ini telah menelan biaya satu miliar dollar AS pertahun karena fobia itu telah menyebabkan orang mangkir dan membatalkan keberangkatan kereta dan pesawat terbang, serta mengurangi aktivitas perdagangan di setiap tangal 13 setiap bulannya. Napoleon Bonaparte, Paul J. Getty, dan Franklin Delano Roosevelt sangat percaya dengan kesialan angka 13 ini sehingga selalu menghindari makan malam dengan 13 orang. Trikaideka-phobia , takut akan angka 13, sedemikian hebatnya sehingga kalau anda makan malam di Hotel berbintang Savoy di London, dan kebetulan anda datang rame-rame ber-13 maka si Manager Hotel Mr Paul, akan cepat2-cepat mengeluarkan mascot dua kucing hitam yg didudukan di kursi khusus , untuk menemani anda sekalian dimeja makan! Biar yg makan jadi 15, kalau tidak, “It is believed that one of the 13 diners will die within a year". Begitu wanti-wanti sang manager memperingati pelanggannya tersebut.

Berapa banyak hotel atau permukiman yang pantang mencantumkan angka 13 untuk nomor lantai, kamar, maupun rumah. Lotere di Itali, Perancis tidak ada nomer 13-nya. Begitu juga tidak ada nama jalan di Amerika yang menggunakan 13th Street atau 13th Avenue. Di dalam kekristenan, angka 13 ini juga mengingakan mereka akan episode perjamuan terakhir, di mana murid yang ke-13 berkhianat terhadap Yesus. Angka 13 jika bersamaan waktunya dengan hari Jum'at (hari yang oleh orang Kristen dipercaya sebagai hari kematian Yesus) dianggap sial dua kali lipat (Fiday 13). Berdasarkan hasil penelitian dari Dr Donald Dossey seorang psikoterapi khusus dlm bidang “phobia” = takut dlm bhs Yunani, di AS saja ada lebih dari 21 juta orang yang memiliki penyakit “paraskevidekatriap hobia” atau rasa takut akan hari Jumat tgl 13. Dan menurut laporan dari “The Stress Management Center and Phobia Institute” di Asheville - AS, tenyata setiap hari Jumat tgl 13, ekonomi Amerika mengalami kerugian antara 800 s/d 900 juta AS$, karena banyak orang yg ogah travelling, bekerja ataupun melakukan kegiatan bisnis apapun juga.

Setelah mengetahui beberapa mitos dan kepercayaan seputar angka 13, tentunya pembaca MOD sekalian ada yang merasa takut ataupun sekedar penasaran dengan angka tersebut. Namun secara pasti saya pribadi tidaklah menggangap angka 13 sebagai sesuatu yang perlu ditakutkan. Selama kita selalu beserah diri pada Allah SWT, semoga yang kita jalani selama ini mendapatkan ridho dan dukungannya. Namun jika dilihat kembali dari segi Islam angka 13 bukanlah angka sial, Contoh surat Ar Rahman mulai dr ayat 13, isi ayat 13 itu diulang-ulang terus sebanyak 31 x, dimana angka 31 juga merupakan mirror dari angka 13 itu sendiri. Dalam Al-Quran kita dianjurkan untuk sholat Tahajjud ada 13 x dlm berbagai surat dan ayat-ayatnya. Dan untuk gampangnya saja, huruf Alif dan Laam telah digunakan sebagai huruf Muqattaat di dua surat yaitu Surat no.13 dan Surat no.31.Surat 13 namanya Surat Ar Ra’du ( Petir) dan Surat 31 namanya Surat Luqman. Hal yang menarik dari kedua Surat ini ialah Surat 13 mempunyai 43 Ayat sedang-kan Surat 31 mempunyai 34 Ayat. Jadi jika kita sering-sering membolak-balikkan halaman Al-Quran, maka kita pasti kita akan menemukan rahasia mengenai angka-angka tersebut.

Bahkan ada yang cukup menggelitik saya dengan komentar dari seorang pengurus partai pada salah satu media seperti pada kutipan berikut ini :
====================================================================
"Saya bersyukur PKB dapat nomor urut 13 dalam pemilu, angka 13 angka keramat, dan rumah Nabi Muhammad juga nomor 13," kata Ketua DPD PKB Jawa Barat Helmy Faisal dalam kampanye PKB di Lapangan Gambar Sari, Subang, Jawa Barat, Sabtu (21/3/2009).
====================================================================
Namun kenyataan berbicara lain, kubu PKB menjadi terpecah dua, otomatis partai yang memiliki basis yang kuat pada propinsi Jawa Timur ini keok di pemilu 2009 dengan hanya memperoleh 4,94 persen. Perihal pernyataan Helmy yang mengucapkan nomor 13 sebagai nomor rumah Nabi Muhammad masih perlu dipikir dan dicerna berulang-ulang mengenai kebenarannya. Sedangkan yang menjadi cukup aneh disini adalah terjadi dengan nomor urut mirror dari 13 yakni 31, dimana nomer ini menjadi nomer urut dari partai Demokrat. Demokrat menjadi pemenang pemilu legislatif dengan memperoleh suara mutlak 20,85 % jauh memimpin dari pesaing-pesaing kuat lainnya, seperti Golkar dan PDI-P.
no.urut PKB di Pemilu 2009


no.urut Demokrat di Pemilu 2009

Terlepas dari hal tersebut tidak dapat dipungkiri kalau angka 13 selalu menjadi fenomena dan misteri dari kehidupan kita sehari-hari. Di liputan yang serba 13 ini saya juga mengucapkan selamat ulang tahun pada mas Hanif Santoso, Koordinator liputan ITS Online dan juga mahasiswa Geomatika ITS. Sekaligus kontributor blog tetangga hifatlobrain.blogspot.com, mbak Winda Savitri yang juga mahasiswa Teknik Kimia ITS. Kedua orang yang ganteng dan cantik ini pada tanggal 13 Mei genap berusia 22 tahun. Dua orang yang memiliki tanggal lahir yang sama ini kebetulan sempat diabadikan oleh Aklam Panyun lewat mata lensanya.

Mas Hanif dan Mbak Winda

Sekian dulu investigasi dari MOD, untuk penutup saya dan mewakili pembaca setia MOD, saya mengucapkan selamat ulang tahun untuk mas hanif dan mbak winda. Semoga panjang umur, sehat, dan tercapai cita-citanya. Amin. Sampai jumpa di posting yang akan datang.

24 April 2009

Save The Energy, Save The World

Foto : Fajjar Nuggraha
Text : Fajjar Nuggraha

Pekan Ilmiah Mahasiswa ITS (PIMITS) yang ke-12 telah resmi bergulir Senin (20/4), saya sendiri mendapatkan tugas peliputan di hari awal pelaksanaan event akbar tahunan dari BEM ITS ini. Semenjak jam 8 pagi saya sudah standby di Graha Sepuluh Novemper, meskipun saya tau kalau pembukaan PIMITS dimulai pukul 09.00 WIB. Namun sial yang melanda saya, tunggu punya tunggu ternyata tidak muncul wajah-wajah para petinggi ITS yang akan membuka perhelatan PIMITS 12, bahkan persiapan para peserta Gelar Karya Mahasiswa (GKM) yang merupakan perwakilan tiap masing-masing jurusan di ITS maupun Politekniknya antara lain Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PENS) dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) masih terlihat sangat kacau dan belum siap. Jurusan saya bahkan tidak kebagian sekat pembatasan, tentunya membuat stand dari Teknik Sistem Perkapalan yang berdekatan dengan D3 Sipil dan Teknik Kelautan terlihat semarwut. Terlepas dari itu semua, PIMITS 12 tetap dimulai dengan ditandainya pertandingan robot line tracer tingkat SMA/ Sederajad dan Robo Soccer yang diikuti mahasiswa ITS.
Tim SMA yang bertanding di ajang Aksi Robot PIMITS 12


Robo Soccer cabang baru dari Aksi Robot PIMITS 12

Hari pertama pelaksanaan PIMITS Graha ITS cukup padat diramaikan oleh mahasiswa ITS yang ingin sekedar berkunjung ke stand jurusannya ataupun bersantai ria. Sedangkan saya sendiri memang sedang free hari itu, kebetulan kuliah Teknik Reparasi Permesinan by Pak IG kosong, beliau belum pulang dari Bangka Belitung. Kontan saja saya menikmati free day saya dengan liputan ini. Tidak lama berselang saya niatkan untuk bertemu dengan Korsa, mahasiswa Teknik Informatika ini adalah ketua panitia PIMITS 12 kali ini. Kita beri apresiasi yang tinggi untuk Korsa yang rela meninggalkan kuliah sejenak demi berlangsungnya acara PIMITS. Korsa berpendapat, PIMITS pada tahun 2009 ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan PIMITS-PIMTS yang sebelumnya. Kebetulan 2 PIMITS yang sebelumnya saya juga mengikuti perkembangannya, pada PIMITS 10 saya sempat menjadi panitia pusat BEM ITS, pada PIMITS 11 beberapa agenda acaranya saya yang liput. Tentunya sedikit banyak saya tau perubahan itu, menurut pandangan saya dari segi perserta lomba PIMITS 12 lebih unggul, selain itu poin tertinggi mereka terletak pada opening cermony-nya. Dengan bekerjasama dengan beberapa komunitas sepeda, PIMITS 12 berhasil menyuguhkan acara pembukaan yang berkesan. Namun sangat disayangkan beberapa agenda kegiatan yang menurut saya pribadi sangat berpotensi seperti Jurnalistik on The PIMITS (JOP), dan Film Indie kini tidak lagi hadir di PIMITS 12.
Hal baru yang hadir di PIMITS 12 kali ini adalah penyelenggaraan Viksasi dan penjurian dari 88 karya Program Kreatifitas Mahasiswa ITS yang dibiayai oleh DIKTI. Korsa pun kembali mengungkapkan PIMITS 12 kali ini memiliki visi yang ingin mengembalikan tujuan dari PIMITS itu sendiri, yakni sebagai miniatur PIMNAS bagi Mahasiswa ITS. PIMITS merupakan ajang pemanasan bagi mahasiswa ITS sebelum maju bersaing dengan teman-teman mahasiswa lainnya yang tersebar di Indonesia. Tentunya dengan adanya Gelar Produk PKM ini membuat suasana dari Graha ITS semakin ramai, terutama pada hari kedua PIMITS 12, banyak dari pengunjung yang ingin melihat, bertanya, ataupun bahkan berdiskusi dengan para peraih dana DIKTI tersebut. Selain itu hari kedua semakin heboh, dikarenakan dimulainya pertandingan line tracer tingkat Mahasiswa. Tentunya tingkat mahasiswa lebih seru disaksikan, dan tak ayal banyak dari tim robot ini membawa suporter mereka masing-masing untuk mendukung timnya diajang yang bergengsi di PIMITS 12 kali ini. Perserta Aksi Robot 2009 sangat meningkat drastis, ini senada dengan yang disampaikan oleh Haris ketua Aksi Robot, peningkatan tersebut mencapai 100 % lebih. Selain itu yang menarik adalah bermunculannya tim-tim srikandi robot ITS, seperti tim kartini yang menamai nama timnya untuk memperingati hari kartini yang memang jatuh pada hari itu (21/4). Namun sayang tim Kartini tidak mampu menembus dominasi dari kaum adam dalam perhelatan aksi robot kali ini.

Wasit melempar koin untuk menentukan arena line tracer

Nisa, Srikandi dari Tim Kartini

Aksi Robot, masih milik PENS-ITS...Pria di Foto ini sebelumnya juara Robo Soccer

Liputan di PIMITS semakin tambah asyik ketika saya sudah mau balik ke jurusan. Loh kenapa? Begini ceritanya, motor saya yang setia itu baru saja melewati bundaran ITS, tiba-tiba ada telpon dari Mbak Indah Humas ITS. Mbak Indah minta di fotoin karya-karya dari mahasiswa ITS, pertama saya sempat nolak, yah maklum saya takut waktu foto-foto saya keasyikan dan lupa kalau hari yang sama saya ada Praktikum Mesin Kapal, yang memaksa saya untuk berdiri 4 jam lebih. Namun demi menolong sesama ya saya ikhlas membantu mbak Indah, otomatis saya langsung balik ke Graha. Langsung saja saya datangi tiap stand yang ada di PIMITS, yah ga banyak-banyak saya juga pilih-pilih.

-------------------------------------------------------------------------------------------------
Tidak semua jurusan yang bisa saya tampilkan, saya mohon maaf kalau ada pembaca MOD yang jurusannya tidak terdapat di galery Gelar Karya Mahasiswa (GKM) di bawah ini. Mungkin lain kesempatan di PIMITS 13 (angka favorite saya tuh) saya bisa mengambil foto ditiap jurusan di ITS.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Nina, salah satu mahasiswi Arsitektur ini mencoba menerangkan maket rumah minimalis karya Mahasiswa Arsitektur ITS.

Dari stand D3 Sipil, pengunjung bertanya mengenai konsep jembatan

D3 Eletro dengan alatnya berhasil memukau siswa SMA yang satu ini.


Di stand Despro kita jumpai Tyzha yang juga Sekretaris Himpunan ini, si Tyzha juga rela ngbolos kuliah di stand jurusannya tercinta.


Teknik Kelautan hadir dengan miniatur offshorenya, banyak pengunjung yang dibuat tertarik melihat kilang minyak lepas pantai itu.


Banagyzer, mesin penghasil tenaga listrik dari kulit pisang ini menjadi andalan mahasiswa Teknik Kimia


Kursi khusus untuk manula ini merupakan karya dari mahasiswa Teknik Industri

Teknik Lingkungan hadir dengan konsep serba hijau di standnya

Mahasiswa PPNS mengendalikan putaran dari propeller melalui software yang mereka buat

PIMITS 12 sungguh menjadi ajang kreatifitas dan kreasi dari mahasiswa ITS, sangat sayang sekali jikalau acara yang memiliki ide yang luhur ini tidak mendapatkan dukungan dari beberapa pihak. Bicara masalah kreatif, PIMITS 12 tidak hanya jadi ajang ujuk gigi dari teman-teman dari jurusan. Melainkan pada PIMITS 12 kali ini banyak hasil karya kreatif yang dipajang bahkan dijual, seperti yang dilakukan teman-teman dari Koperasi Mahasiswa (KOPMA) ITS. Mereka selain menjual pernak-pernik dan asesoris ITS, KOPMA juga menyediakan beberapa desain baju. Pengunjung pun bisa langsung membeli ataupun memesan terlebih desain sesuai dengan pilihannya masing-masing. Teman-teman dari KOPMA sangat apik dalam bermain kata-kata dan kalimat dalam tiap desain baju mereka. Walaupun terkesan biasa, tapi kalau yang pakai arek ITS pasti bangga. Pada hari kedua, Tembok-tembok sekat di PIMITS menjadi penuh dengan karya dari beberapa fotografer yang sebelumnya beradu menghasilkan foto apik di tour bike Surabaya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Kreatifitas merupakan sebuah anugrah bagi sebagian orang, namun jika kreatifitas itu mulai dibatasi dan dikukung, akankah tetap menjadi sebuah anugrah.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
1 Kunci lagi apaan?

Kalau pakai kaos ini rada malu juga, kalkulus saya cuman AB...Hiks


Kalau yang buat kaos anak Siskal, Tulisannya jadi gini :Kuliah Nang ITS Akeh Tugase, Awan Kuliah, Bengi Kuliah, Senin Sampai Sabtu Kuliah, Kapan Dolane?

Dua wanita yang sedang menikmati hasil karya fotografi di PIMITS 12

Kreatifitas mahasiswa ITS ini terlihat dari berbagai karya PKM dari arek-arek ITS. Hampir semua tim PKM yang dinyatakan dibiayi dikti menggelar produk PKMnya. Sepertu yang sudah saya jelaskan diatas, bahwasanya di PIMITS tidak hanya menjadi ajang lomba dan pameran dari karya-karya dari tiap jurusan. Selain itu PIMITS mempunya agenda penting lainnya yakni melakukan tahapan viksasi dan penjurian terhadap karya PKM ITS. Setelah itu tim yang dinyatakan lulus viksasi dan penjurian akan melakukan presentasi karya mereka masing-masing. Untuk tim yang terbaik versi penilaian juri dan polling pengunjung, berhak mewakili ITS di ajang PIMNAS yang akan datang. Adapun tim yang lolos ke PIMNAS yakni berjumlah 7 tim dari 4 kategori PKM. Ternyata di acara gelar produk PKM ini saya banyak menjumpai kawan lama saya, seperti Teguh Herlambang mahasiswa Matematika ini membuat inovasi shampoo dengan berbahan dasar daun waru. Lain lagi dengan Tim Amanda bersama teman saya Dias Natawan Gita, Mahasiswa Elektro ini berhasil mengembangkan Magnetic Alarm Security (MAS). Kesemua produk inovatif dari mahasiswa ini sudah ramai beredar di pasaran. Sedangkan teman-teman dari Teknik Sistem Perkapalan, membawa sebuah alat dan sistem pereduksi emisi NOx dan SOx.

Zhia dengan game bentengannya telah sukses mengajak siswa Sekolah Dasar (SD) untuk melestarikan game tradisional Nusantara ini.


Kreasi dari mahasiswa ITS ini semoga mampu mengurangi angka Curanmor di ITS

Teguh Herlambang, Teman TPB dulu...


Dhika dan Setifan bersama produk PKM-nya

Juri yang sedang melakukan penilain terhadap hasil karya mereka di PIMITS 12

Liputan PIMITS 12 kali ini saya tidak bisa mengikuti sampai akhir acara, sama dengan nasib PIMITS-PIMITS yang sebelumnya. Selalu ada saja yang menghalangi saya untuk melihat Closing Ceremony. Walaupun masih banyak kekurangan, tidak membuat secara keseluruhan acara PIMITS 12 hancur. Namun yang menjadi jalan pikiran kita sekarang adalah bagaimana menciptakan sebuah inovasi hemat energi namun terjangkau oleh masyarakat luas. Melalui PIMITS ini semoga dilahirkan para peraih mendali emas dan mengharumkan kembali nama besar ITS di ajang PIMNAS Malang. Cukup sekian dari MOD menyampaikan liputan khusus mengenai PIMITS 12, namun sebelum anda meninggalkan blog ini. Berikut terdapat berbagai foto yang diambil secara snapshot alias diam-diam.

E.M.A

G2


Niko ketauan mojok di Graha ITS

Sampai jumpa dengan liputan yang akan datang........